Wellcome To My Blog

Showing posts with label Artikle Islami. Show all posts
Showing posts with label Artikle Islami. Show all posts

Wednesday, August 6

Surat Cinta yang menghanyutkan hati

Wednesday, August 06, 2008 by Joe Spyder · 3 comments

Assalamu’alaikum warahmatullah wa barakatuh.

Kepadamu kukirimkan salam terindah, salam sejahtera para penghuni surga. Salam yang harumnya melebihi kesturi, sejuknya melebihi embun pagi. Salam hangat sehangat sinar mentari waktu dhuha. Salam suci sesuci air telaga Kautsar yang jika direguk akan menghilangkan dahaga selama-lamanya. Salam penghormatan, kasih dan cinta yang tiada pernah pudar dan berubah dalam segala musim dan peristiwa.

Wahai orang yang lembut hatinya,

Entah dari mana aku mulai dan menyusun kata-kata untuk mengungkapkan segala sedu sedan dan perasaan yang ada di dalam dada. Saat kau baca suratku ini anggaplah aku ada dihadapanmu dan menangis sambil mencium telapak kakimu karena rasa terima kasihku padamu yang tiada taranya.

Wahai orang yang lembut hatinya,

Sejak aku kehilangan rasa aman dan kasih sayang serta merasa sendirian tiada memiliki siapa-siapa kecuali Allah di dalam dada, kaulah orang yang pertama datang memberikan rasa simpatimu dan kasih sayangmu. Aku tahu kau telah menitikkan air mata untukku ketika orang-orang tidak menitikkan air mata untukku.



Wahai orang yang lembut hatinya,

Ketika orang-orang di sekitarku nyaris hilang kepekaan mereka dan masa bodoh dengan apa yang menimpa pada diriku karena mereka diselimuti rasa bosan dan jengkel atas kejadian yang sering berulang menimpa diriku, kau tidak hilang rasa pedulimu. Aku tidak memintamu untuk mengakui hal itu. Karena orang ikhlas tidak akan pernah mau mengingat kebajikan yang telah dilakukannya. Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang saat ini kudera dalam relung jiwa.

Wahai orang yang lembut hatinya,

Malam itu aku mengira aku akan jadi gelandangan dan tidak memiliki siapa-siapa. Aku nyaris putus asa. Aku nyaris mau mengetuk pintu neraka dan menjual segala kehormatan diriku karena aku tiada kuat lagi menahan derita. Ketika setan nyaris membalik keteguhan imanku, datanglah Maria menghibur dengan segala kelembutan hatinya. Ia datang bagaikan malaikat Jibril menurunkan hujan pada ladang-ladang yang sedang sekarat menanti kematian. Di kamar Maria aku terharu akan ketulusan hatinya dan keberaniannya. Aku ingin mencium telapak kakinya atas elusan lembut tangannya pada punggungku yang sakit tiada tara. Namun apa yang terjadi Fahri?

Maria malah menangis dan memelukku erat-erat. Dengan jujur ia menceritakan semuanya. Ia sama sekali tidak berani turun dan tidak berniat turun malam itu. Ia telah menutup kedua telinganya dengan segala keributan yang ditimbulkan oleh ayahku yang kejam itu. Dan datanglah permintaanmu melalui sms kepada Maria agar berkenan turun menyeka air mata dukaku. Maria tidak mau. Kau terus memaksanya. Maria tetap tidak mau. Kau mengatakan pada Maria: "Kumohon tuturlah dan usaplah air mata.

Aku menangis jika ada perempuan menangis. Aku tidak tahan. Kumohon. Andaikan aku halal baginya tentu aku akan turun mengusap air matanya dan membawanya ke tempat yang jauh dari linangan air mata selama-lamanya. Maria tetap tidak mau." Dia menjawab: "Untuk yang ini jangan paksa aku, Fahri! Aku tidak bisa." Kemudian dengan nama Isa Al Masih kau memaksa Maria, kau katakan, "Kumohon, demi rasa cintamu pada Al Masih." Lalu Maria turun dan kau mengawasi dari jendela.

Aku tahu semua karena Maria membeberkan semua. Ia memperlihatkan semua kata-katamu yang masih tersimpan dalam handphone-nya. Maria tidak mau aku cium kakinya. Sebab menurut dia sebenarnya yang pantas aku cium kakinya dan kubasahi dengan air mata haruku atas kemuliaan hatinya adalah kau. Sejak itu aku tidak lagi merasa sendiri. Aku merasa ada orang yang menyayangiku. Aku tidak sendirian di muka bumi ini.

Wahai orang yang lembut hatinya,

Anggaplah saat ini aku sedang mencium kedua telapak kakimu dengan air mata haruku. Kalau kau berkenan dan Tuhan mengizinkan aku ingin jadi abdi dan budakmu dengan penuh rasa cinta. Menjadi abdi dan budak bagi orang shaleh yang takut kepada Allah tiada jauh berbeda rasanya dengan menjadi puteri di istana raja. Orang shaleh selalu memanusiakan manusia dan tidak akan menzhaliminya. Saat ini aku masih dirundung kecemasan dan ketakutan jika ayahku mencariku dan akhirnya menemukanku. Aku takut dijadikan santapan serigala.

Wahai orang yang lembut hatinya,

Sebenarnya aku merasa tiada pantas sedikit pun menuliskan ini semua. Tapi rasa hormat dan cintaku padamu yang tiap detik semakin membesar di dalam dada terus memaksanya dan aku tiada mampu menahannya. Aku sebenarnya merasa tiada pantas mencintaimu tapi apa yang bisa dibuat oleh makhluk dhaif seperti diriku.

Wahai orang yang lembut hatinya,

Dalam hatiku, keinginanku sekarang ini adalah aku ingin halal bagimu. Islam memang telah menghapus perbudakan, tapi demi rasa cintaku padamu yang tiada terkira dalamnya terhunjam di dada aku ingin menjadi budakmu. Budak yang halal bagimu, yang bisa kau seka air matanya, kau belai rambutnya dan kau kecup keningnya. Aku tiada berani berharap lebih dari itu. Sangat tidak pantas bagi gadis miskin yang nista seperti diriku berharap menjadi isterimu. Aku merasa dengan itu aku akan menemukan hidup baru yang jauh dari cambukan, makian, kecemasan, ketakutan dan kehinaan.

Yang ada dalam benakku adalah meninggalkan Mesir. Aku sangat mencintai Mesir tanah kelahiranku. Tapi aku merasa tidak bisa hidup tenang dalam satu bumi dengan orang-orang yang sangat membenciku dan selalu menginginkan kesengsaraan, kehancuran dan kehinaan diriku. Meskipun saat ini aku berada di tempat yang tenang dan aman di tengah keluarga Syaikh Ahmad, jauh dari ayah dan dua kakakku yang kejam, tapi aku masih merasa selalu diintai bahaya. Aku takut mereka akan menemukan diriku. Kau tentu tahu di Mesir ini angin dan tembok bisa berbicara.

Wahai orang yang lembut hatinya,

Apakah aku salah menulis ini semua? Segala yang saat ini menderu di dalam dada dan jiwa. Sudah lama aku selalu menanggung nestapa. Hatiku selalu kelam oleh penderitaan. Aku merasa kau datang dengan seberkas cahaya kasih sayang. Belum pernah aku merasakan rasa cinta pada seseorang sekuat rasa cintaku pada dirimu. Aku tidak ingin mengganggu dirimu dengan kenistaan kata- kataku yang tertoreh dalam lembaran kertas ini.

Jika ada yang bernuansa dosa semoga Allah mengampuninya. Aku sudah siap seandainya aku harus terbakar oleh panasnya api cinta yang pernah membakar Laila dan Majnun. Biarlah aku jadi Laila yang mati karena kobaran cintanya, namun aku tidak berharap kau jadi Majnun. Kau orang baik, orang baik selalu disertai Allah.

Doakan Allah mengampuni diriku. Maafkan atas kelancanganku.

Wassalamu’alaikum,

Yang dirundung nestapa,

Friday, July 18

Upin dan Ipin kartun pas bulan puasa

Friday, July 18, 2008 by Joe Spyder · 7 comments

Upin dan Ipin


Selanjutnya tar ya. luchu banget neh kartun

Monday, July 14

DIARY

Monday, July 14, 2008 by Joe Spyder · 0 comments

Dipublikasi pada Ahad, 21 September 2003 oleh aharis Annida No.12 Th.XI
April 1984

Menjelang Ujian Akhir SMP

Gempa hebat melanda keluargaku, dan telah memporakporandakan bangunan hatiku.

Allahu Robbi, kenapa Bapak tega melakukan semua ini? Tak tega melihat ibu yang diam

mematung dengan air mata berlelehan. Sementara Pak Jono, Pak Dodi, teman sekantor

Bapak menjelaskan dengan bahasa yang dibuat sehalus mungkin.

Aku mengintip takut-takut dari lubang kunci, raut wajah Ibu yang tiba-tiba menegang,

lalu air mata yang tumpah bak banjir bandang.

Bapak dipecat, karena menyelewengkan dana kantor dan terbukti melakukan tindakan asusila dengan rekan wanitanya di kantor. Bahkan, wanita itu telah diberinya rumah di Kecamatan Pare, tiga puluh kilometer dari rumah kami.Bapak dipenjara atas tuduhan korupsi dan berselingkuh dengan istri orang.Aku tahu, bukan sekali ini saja Bapak Mengkhianati Ibu. Sebagai anak tertua aku sudah bisa membaca hubungan kedua orang tuaku. Namun baru kali iniku lihat Ibu begitu terpukul. Tentu, dengan dipecatnya Bapak, berarti asap tak akan mengepul lagi di tungku keluarga kami. Sementara lima orang anak

perempuan setiap hari membutuhkan jatah nasi yang tidak sedikit. Melihat Ibu bermuram durja, semangat belajarku hilang seketika.

Mei 1984

Ujian Akhir, 03.00 Pagi

Suara lantunan ayat-ayat suci membangunkanku dari lelap. Ibu! Begitu biasanya beliau membangunkan kami untuk shalat lail. Segera kutepuk Tini untuk menyusul Ibu. Mata adikku masih memerah menahan kantuk. Tapi kusemangati dia, “Ayo, katanya ingin berdoa, Tini ingin minta apa?” Malam begini dingin menyambut kami di kamar mandi. Air terasa seperti butiran es.


Kuusap mataku dan mata Tini sambil tersenyum, sekejap kemudian kesegaran mengaliri seluruh tubuh. Lenyap sudah kantuk yang memberati mata. Ibu menyambut kami dengan senyum, tapi…. Matanya begitu sembab, pasti Ibu habis menangis. “Mana adik-adikmu yang lain, Nduk?” kami saling berpandangan, lalu menggeleng dan tersenyum malu. Habis, sulit sekali membangunkan Lastri dan Tinah, bisa ditendang aku nanti, maklum, mereka masih kecil. Usai tahajud, aku terus mengambil buku dan belajar. Ibu menemani sambil meneruskan tadarus Qur’an-nya. Ibu…. Bagaimana orang sealim Ibu bisa mendapatkan orang seperti Bapak. Ah, ngelantur aku ini, kalau tidak ada Bapak, berarti aku juga tidak ada.

Akhir Mei 1984

Akhirnya, selesai sudah ujian akhirku. Alhamdulillah leganya. Setidaknya aku mulai bisa memikirkan yang lain untuk membantu mengurangi beban Ibu. Yah, mau bagaimana lagi, Ibu memutuskan menjual sebagian tanah warisannya untuk menebus Bapak dari penjara.

“Bagaimana pun dia bapakmu, Wuk, sejahat dan sebejat apa pun kelakuannya, darahnya

lah yang mengalir di tubuhmu.”

Aku juga tak tahu musti harus bagaimana. Rasanya kaget tiba-tiba ikut terlibat dalam permasalahan rumit ini. Tapi Ibu butuh teman bicara. Dan aku, anak sulungnyalah yang bisa melakukan itu. Ya, mesti cuman sebatas mendengarkan. Menanti Bapak pulang seperti menunggu datangnya makhluk asing dari planet lain. Ada rindu, ada benci, ada juga rasa asing yang tak bisa kumengerti.

Entahlah, dari dulu kami memang tak bisa dekat. Bapak menginginkan anak laki-laki, sementara kelima anaknya perempuan. Barangkali itulah yang membuat sulit sekali diajak bermanja. Suatu sore, saat matahari senja merah saga memenuhi langit,

Bapak benar-benar pulang. Sosoknya yang tinggi besar memenuhi pintu rumah.

Dan Ibu menyambutnya seperti biasa, dengan mencium tangan Bapak, dan menyuruh kami melakukan hal yang sama. Tanpa beban, seolah tak terjadi apa pun yang pernah mengguncang keluarga kami. Kucari dendam di mata Ibu, tapi ya Rabbi, mata itu begitu

ikhlas dan tabah. Sementara hatiku sudah mulai tertorehi luka.

Agustus 1984

Perekonomian keluarga kami benar-benar terpuruk. Aku tak bisa melanjutkan kuliah. Jangankan untuk mendaftar SMA, untuk makan sehari-hari pun mulai kesulitan.

Bapak berpamitan untuk mencari kerja di Bogor. Memang di kota kecil seperti Kediri, mencari pekerjaan baru bukanlah hal mudah, apalagi untuk orang yang namanya sudah cacat seperti Bapak. Ibu mengambil alih perekonomian dengan membuka warung pecel di depan rumah.

Pagi buta sampai siang, Ibu mengurus warung pecelnya. Sore hingga malam membuat krecek, makanan ringan dari irisan singkong kering yang digoreng dan dibumbuhi gula merah serta cabai. Aku membantu Ibu sekuatnya. Aku punya kewajiban moral untuk membantunya, kalau bukan aku, siapa lagi? Bangun pukul empat pagi

Kini tak terasa dingin lagi. Sepagi itu aku dan Ibu mulai ke pasar. Tiba di rumah, kami berbagi tugas. Aku mencuci baju, Tini membersihkan rumah. Setelah beres, kami membantu Ibu menyaingi sayuran. Ketika adik-adikku berangkat sekolah aku mulai menyiapkan potongan-potongan singkong untuk digoreng. Bila malam tiba, sambil mengajari mereka, aku dan Ibu membungkus krecek ke dalam plastik agar esok pagi bisa kuedarkan ke warung-warung dan pasar Kandat. Ya Allah, Pengatur nasib umat, aku sangat bangga pada Ibu. Di tengah himpitan ini beliau masih terus berkhusnudzan kepada-Mu, terus mengajari kami bersabar, dan terus membimbing kami dengan cintanya. Ya Allah, berikanlah segala kebaikan-Mu untuk Ibu dan kami sekeluarga. Dan berilah kesadaran untuk Bapak, ya Allah, bahwa kami adalah putri-putri yang juga mengharap cintanya. Amin.
Agustus 1986

Bapak datang. Datang! Setelah sekian lama tanpa kabar dan kiriman apa pun.

Datang dengan sederet tuntutan dan lecehan pada Ibu. Tuntutan atas kehadiran anak laki-laki yang tak mampu dilahirkan Ibu. Dan satu pelecehan lagi yang membuat darahku berpacu ke ubun-ubun, beliau mengaku sudah menikah di Bogor dan mempunyai seorang anak laki-laki.

Tuntutan untuk menjual sisa tanah,dengan alasan anak laki-laki lebih berhak memperoleh daripada kami. Semua dikatakan Bapak saat kami kesulitan untuk sekedar mengisi perut. Entah keberanian apa yang membuatku lancang kepada Bapak. Kupukul dan kucakar lelaki yang kusebut bapak itu sehingga sebuah tamparan keras mendarat di pipiku.

Ibu yang tersimpuh di atas tubuhku dengan isakpelan, dan umpatan kasar Bapak, “Perempuan sialan, perempuan pincang!Seperti ini kau didik anakmu? Huh, dari dulu aku memang malu punya istri seperti kamu, dasar pincang!” Kali ini giliran Ibu yang mendapat tamparan Bapak. Sakit…. Sakit hatiku mendengar Ibu diumpat seperti itu.

Kaki Ibu memang tidak normal, terserang polio sedari kecil. Tapi bukan berarti ia tidak sempurna mendidik kami. Sungguh ia satu-satunya wanita yang membetot habis rasa cinta dan hormatku lebih dari apa pun. Satu lagi luka tertoreh. Kupandang Bapak dengan mata menyala. Biar….. biarlah Bu, Bapak mengambil tanah itu. Kita buktikan bahwa kita bisa hidup tanpa bantuannya bila itu yang Bapak mau. Aku berjanji, aku bertekad, akan kulakukan apa pun untuk Ibu dan adik-adikku.

Januari 1990

Rumah Makan Padang “Siang Malam”, Gringsing, Kendal Aku membawa truk bermuatan kelapa memasuki pelataran rumah makan. Sisa setengah perjalanan lagi menuju Jakarta. Ahmad dan Pak Gono membuka mata.

Dengan sopan aku menyilahkan mereka untuk beristirahat. Sementara aku harus berburu waktu mencari musholla, shalat Isya’. Celana hitam, jaket gombrangcoklat, dan jilbab kaos hitam telah menyulapku menjadi sosok yang cukup dikenal di rumah makan ini. Pemiliknya Pak Haji Yassin juga kenal denganku.Karena itu aku memilih tempat ini sebagai tempat istrirahat bila nyopir ke arah barat.

Selain lingkungannya apik, baik, juga ada musholla yang nyaman tempat aku istirahat sejenak. Sesekali bahkan Bu Haji menyuruhku istirahat di ruang belakang mereka. Sementara aku istirahat, Ahmad biasa mencuci kacadepan truk, mengisi air radiator, mengecek mesin, dan ban, serta tak lupa menyiapkan sebotol kecil kopi hangat di samping jok untuk persiapan nanti.

Truk ini milik Pak Jono, teman Bapak. Aku yang dipercaya mengelolanya dengan

sistem sewa. Dulu, hampir tiap hari aku keluar masuk desa untuk menawarkan jasa transportasi ini. Kini tinggal memetik hasilnya. Para petani dan pedaganglah yang datang apabila membutuhkan truk sekaligus sopirnya. Akutakpernah bercita-cita menjadi seorang sopir. Tidak, tidak karena itu dunialaki-laki yang keras dan penuh bahaya. Tapi aku tak punya pilihan lain.Hanya pekerjaan ini yang bisa menghasilkan uang paling banyak. Sekali nyopir aku bisa mengantongi uang lima puluh ribu sampai seratus ribu.

Bahkan bila musim panen, aku bisa memegang hingga satu juta rupiah sebulan. Alhamdulillah. Karena selain menyopir, aku juga memasok beberapa komoditi pasar seperti kelapa, pisang, semangka ke beberapa kota sekeliling Kediri.Tentu, dengan bagi hasil dengan Pak Jono.

Ibu terus berjualan pecel dan membuat krecek. Kini hanya dibantu Sundari karena Sutini dan Sulastri sudah kuliah di Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya. Sedang Partinah memilih ke Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.Bahagia rasanya melihat mereka terus sekolah, lebih bahagia karena mereka tak pernah mengecewakan lelehan keringatku. Mereka belajar keras, bahkan sangat keras untuk membahagiakan Ibu dan kakaknya yang sopir truk ini.Sekali waktu, Tini pernah marah padaku, ia minta diijinkan bekerja untuk ikut membantu ekonomi keluarga. Tapi adikku itu mengkeret begitu Melihatku memandang tajam ke arahnya. Adikku…. Maafkan Mbak Tiwuk. Biar Mbak Tiwuk saja yang berkorban, satu saja! Kalian semua jadilah manusia yang berhasil.Dengan lulus UMPTN, dengan kuliah yang benar, dengan cepat lulus, itu sudah cukup membantu Mbak Tiwuk. Sudah membuat Mbak bahagia. Jangan pikirkan yang lain. Doa Mbak untuk kalian semua.

Juli 1993

Rumah Makan “Ayem Tentrem”, Pelabuhan Ketapang Sudah larut malam ketika aku

beristirahat, menunggu kapal yang akan berangkat ke Pulau Bali. Ini rute pertamaku. Agak gamang juga. Tapi Ahmad, kenekku meyakinkan bahwa ia pernah ke Denpasar sebelumnya, jadi aku tak perlu khawatir tersesat.

Deretan truk terparkir dalam keremangan pelabuhan. Aku turun, mencari musholla dan tempat nyaman untuk menyantap rantang makanan bekal dari Ibu. Menjelang pukul dua, kudengar keributan di sekitar trukku. Ahmad berteriak-teriak, aku tertegun.Segerombolan preman tengah merubungnya. Tukang palak rupanya. Sementara Pak Sabar, pemilik kayu gelondongan yang kuangkut tergigil pucat pasi di sisi truk.

Pemalakan tidak tanggung-tanggung karena kami orang baru, diharuskan membayar biaya keamanan sebesar seratus ribu. Sejenak mereka melongo begitu tahu sopirnya wanita. Tapi tak pernah kugunakan sebutan itu untuk bersikaplemah, terlebih ini menyangkut hak untuk mencari penghidupan halal, hakasasi setiap umat untuk meneruskan hidupnya.

Setelah gertakan untuk melapor polisi tak ditanggapi, terpaksa kuladeni tantangannya. Ahmad satu tingkat di bawahku di perguruan Perisai Diri.

Jadi aku bisa mengandalkannya. Seratus ribu bukan jumlah yang sedikit. Apalagi Sulastri membutuhkan biaya untuk praktikumnya. Perkelahian berjalan tak seimbang, dua lawan tujuh. Kami bertarung sengit, tiga orang berhasil kami buat jatuh, seorang yang bertindak sebagai pemimpinnya berbuat nekad, saat tendangan kaki kiriku ku arahkan ke si brewok, ia menohok dari samping. Cras… kaki berbalut sepatu kets-ku berlumuran darah. Perih, darah keluar dengan deras. Aku masih bisa menangkis dua, tiga serangan, setelah itu gelap. Saat sadar aku telah berada dalam salah satu bangsal di RSU Banyuwangi. Menurut dokter, setelah sembuh nanti kemungkinan aku akan mengalami sedikit pincang. Sejumlah memar juga menghiasi leher dan punggung.Rupanya saat aku sudah jatuh mereka masih menendangiku. Untunglah Pak Sabar datang tepat pada waktunya dengan dua orang polisi pelabuhan. Aku bersyukur karena Ahmad dan Pak Sabar tak terluka. Ah, peristiwa pahit. Tapi tak akan melemahkan semangatku untuk terus mencari nafkah, karena lima bulan lagi Sundari lulus SMA.

Februari 1995

Kutuntun Ibu ke dalam ruangan penuh spanduk dan karangan bunga.Subhanallah, matahari pagi pucuk-pucuk pinisium ikut tersenyum memandang kami. Hari ini Sutini disumpah menjadi seorang dokter. Map hitam berlogo almamater diserahkan kepada Ibu dan aku sambil menahan tangis. “Ini….Untuk Ibu dan Mbak Tiwuk.”Kupeluk adikku, kuusap keningnya.

“Seandainya setiap kakak di dunia ini seperti Mbak Tiwuk…..,” ujarnya dengan mata basah.”Seandainya semua adik di dunia seperti kalian, tidak akan ragu seorang kakak melakukan apa pun,” kami berpelukan, kurengkuh bahu adikku, Tini yang bulan depan akan mengakhiri masa lajangnya, disunting oleh teman seangkatan, pemuda soleh yang bulan kemarin bersama keluarganya mengkhitbah Tini dirumah kecil kami. Jemputlah masa depanmu Adikku….Mbak Tiwuk ikhlas kau langkahi.

Mei 1997

Rumah Makan “Baranangsiang”, Bogor Menyebut kota ini menimbulkan luka lagi yang menganga, Bapak….. pelan ku eja namanya. Nama laki-laki yang seharusnya menanggung beban di atas pundakku. Pernikahan Tini kemarin beliau hadir, juga saat Tinah diakadkan.Semanis apa pun wajah kupasangkan, tak bisa membangun jembatan kemesraan anak beranak di antara kami. Hati ini terlanjur sakit.

Pada saat kupandang wajah Ibu, masih dengan tulus yang sama menyambut kepulangan Bapak. Alangkah luas telaga maafmu, Ibu. Sementara hanya setitik hormat yang masihku punya. Menurut berita yang kudengar, usaha Bapak di Bogor maju pesat,dengan seorang istri dan dua anak laki-laki yang diidamkannya.Syukurlah jika Bapak bahagia. Semoga waktu akan mengurai kebekuan hati ini hingga terbentuk maaf yang tulus untuknya. Karena aku tak mau selamanya jadi anak durhaka. Bukankah Allah telah begitu adil dengan apa yang telah kami terima selama ini? Sungguh aku bersyukur…….

Mei 2000

Rumah berdinding setengah bata setengah bambu kami terasa bertambah tua, atap dapur bahkan nyaris dorong. Seperti juga kerut pada Ibu, juga wajahnya yang makin mengental. Jika ada kesempatan untuk bernafas, inilah saatnya. Keempat adikku sudah mentas semua. Tinggal Sundari, itu pun sudah hamper mandiri, karena selain menyelesaikan S2, ia juga mengajar di sebuah yayasan. Kini perhatianku beralih ke Ibu. Ibu yang membesarkan kami dengan keduatangannya, dengan kakinya yang terseok, yang selalu membentengi kami melalui doa yang rutin dipanjatkan di setiap malam, melalui puasa Senn-Kamis, dengan keprihatinannya, juga dengan sabar dan cintanya.

“Wuk, bisa nggak ya niat Ibu kesampaian. Ibu ingin sekali melihat Baitullah.” Satu kata itulah yang menjadi perhatianku kini. Maka, ketikaTini, Tinah, dan Lastri menawarkan diri untuk merenovasi rumah, kalimat itu kuulang pada ketiga adikku. Dengan sisa tabungan dan sumbangan mereka, aku berharap bisa memenuhi permintaan Ibu.

Juli 2000

“Dunia begitu indah karena kami memiliki kakak seperti engkau. Terimakasih,

Mbak….” Kueja kalimat itu berulang. Sebuah cincin permata berlian menyertai kertas itu. Ah, aku lupa, hari ini aku berulang tahun. Aku memang selalu lupa dan tak pernah memikirkannya. Setitik air membasahi pipi, sudah berapa lama aku tidak menangis? Kucium kertas itu.Adik-adikku, dunia pun sangat indah karena aku memiliki kalian, juga Ibu.Terima kasih ya Alah.

Februari 2001

Garuda Indonesia, Boeing 737, Jamaah Haji Kloter 12 Pada Allah semua tujuan hidup bermuara. Tak pernah kubenci dan kusesali hidupku. Karena aku telah memandang semuanya dengan syukur dan karenanya sepahit apa pun kenyataan akan tetap terasa indah. Inna ma’al ‘usri yusro, sesungguhnya dibalikkesulitan itu ada kemudahan.

Allah akan memberi kemudahan itu pada setiap hambanya yang sabar. Sering aku tak percaya bisa melakukan semua ini, karena tugas itu nyaris usai. Allah Yang Maha Pemurah, telah memberiku kesempatan hidup lebih panjang dari yang divonis dokter. Gadis dengan cacat jantung bawaan seperti aku…… rasanya tak percaya. Allah, jika Engkau ijinkan, berilah hamba waktu lagi minimal untuk bisa berjumpa dengan Bapak, agar kebekuan ini mencair.

Untuk sebuah kata maaf yang belum pernah bisa kukeluarkan, karena aku, Tiwuk Hartati, pernah mempunyai doa yang sangat jelek untuknya. Biarlah maaf itu tumbuh seperti sejuta telaga kasih milik Ibu.

Awan putih menyembul di balik kaca, bar arak meniupkan simponi syahdu. Seolah aku sedang duduk di antaranya, membaca tanpa gerak bibir, bahasayang santun dan dewasa, mengantarku dalam kedalaman rasa tiada tara. Ibu memejamkan mata di seat sebelah, tenang dan damai. Oh Ibu, akhirnya penantianmu usai sudah. Lihatlah Bu, lihat awan itu. Ia akan mengantar kita ke suatu tempat yang paling Ibu dambakan.

Kuusap lembut jemari kisut dan kasar itu. Ibu…. Lelah guratan hidupmu, membayang pada raut wajah itu,tapi tak bisa mengurangi keagungan cinta milikmu. Kukecup lembut dan kubawatangan itu ke atas dada. Di bandara tadi, harta-hartamu mengantar kepergian kita dengan haru: Dokter Sutini, Dokter Sulastri, Insinyur Partinah, dan calon guru kita Sundari, juga suami-suami mereka dan keponakanku yang lucu-lucu: Hanif, Asfa, dan Abdus.

Tawamu jernih dan tulus ketika menciummereka satu per satu, mutiara hidupmu. Wajah damaimu Ibu, adalah bentuk kepasrahan seorang hamba dalam menjalani garis hidup Sang Pencipta, tanpa keluh dan putus asa.

Kepasrahan dalam ketegaran yang senantiasa yakin akanpertolongan Khaliknya. Kurasakan burung besi ini semakin meninggi, memecah udara, diiringi senyum hangat pramugari-pramugari anggun berbaju muslimahyang menawarkan makanan.

Kuambilkan satu untukmu, Ibu….

Garuda pun membelah angkasa menuju Bandara King Abdul Aziz, Jeddah.

Semakin jauh meninggalkan Jakarta, meninggalkan Kediri. Dan satu harapan

lagi, dengan izin-Mu akan terwujudkan. Allah Maha Besar

Saturday, June 14

Perjanan Yang Jauh

Saturday, June 14, 2008 by Joe Spyder · 0 comments

Nurah, saudara perempuanku nampak pucat dan kurus sekali. Tetapi
seperti biasa, ia masih membaca Al-Qur’anul Karim. Jika ingin
menemuinya, pergilah ke mushallanya. Di sana engkau akan mendapatinya
sedang ruku’, sujud dan menengadahkan ke langit. Itulah yang
dilakukannya setiap pagi, sore dan di tengah malam hari. Ia tidak
pernah jenuh.

Berbeda dengannya, aku selalu asyik membaca majalah-majalah seni,
tenggelam dengan buku-buku cerita dan hampir tak pernah beranjak dari
video. Bahkan, aku sudah identik dengan benda yang satu ini. Setiap
video diputar pasti di situ ada aku. Karena ‘kesibukanku’ ini, banyak
kewajiban yang tak bisa kuselesaikan bahkan, aku suka meninggalkan
shalat. Setelah tiga jam berturut-turut menonton video di tengah
malam, aku dikagetkan oleh suara adzan yang berkumandang dari masjid
dekat rumahku. Sekonyong-konyong malas menggelayuti semua
persendianku, maka aku pun segera menghampiri tempat tidur. Nurah
memanggilku dari mushallanya. Dengan berat sekali, aku menyeret
kaki menghampirinya.

“Ada apa Nurah?,” tanyaku.

“Jangan tidur sebelum shalat Subuh!”, ia mengingatkan. “Ah. Subuhkan
masih satu jam lagi. Yang baru saja kan adzan pertama!” Begitulah, ia
selalu penuh perhatian padaku. Sering memberiku nasihat, sampai
akhimya ia terbaring sakit. ia tergeletak lemah di tempat tidur.


“Hanah!,” panggilnya lagi suatu ketika. Aku tak mampu menolaknya.
Suara itu begitu jujur dan polos. “Ada apa saudariku?”, tanyaku pelan.

“Duduklah!”

Aku menurut dan duduk di sisinya. Hening… Sejenak kemudian Nurah
melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu.

“Tiap jiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat
sajalah disempurnakan pahalamu.” (Al Imran: 185) Diam sebentar, lalu
ia bertanya: “Apakah kamu tidak percaya adanya kematian?” “Tentu saja
percaya!”

“Apakah kamu tidak percaya bahwa amalmu kelak akan dihisab, baik yang
besar maupun yang kecil?” “Percaya. Tetapi bukankah Allah Maha
Pengampun dan Maha Penyayang, sementara aku masih muda, umurku masih
panjang!”

“Ukhti, apakah kamu tidak takut mati yang datangnya tiba-tiba?
Lihatlah Hindun, dia lebih muda darimu, tetapi meninggal karena
sebuah kecelakaan. Lihat pula si fulanah…Kematian tidak mengenal
umur. Umur bukan ukuran bagi kematian seseorang. Aku menjawabnya
penuh ketakutan. Suasana tengah malam yang gelap mencekam, semakin
menambah rasa takutku.

“Aku takut dengan gelap, bagaimana engkau menakut-nakutiku lagi dengan
kematian? Di mana aku akan tidur nanti ?” Jiwa asliku yang amat
penakut betul-betul tampak. Kucoba menenangkan diri aku benusaha
tegar dengan mengalihkan pembicaraan pada tema yang menyenangkan,
rekreasi.

“Oh ya, kukira ukhti setuju pada liburan ini kita pergi rekreasi
bersama?”, pancingku. “‘Tidak, karena barangkali tahun ini aku akan
pergi jauh, ke tempat yang jauh… mungkin… umur ada di tangan
Allah, Hanah”, ia lalu terisak. Suara itu bergetar, aku ikut hanyut
dalam kesedihan.

Sekejap, langsung terlintas dalam benakku tentang sakitnya yang
ganas. Para dokter, secara rahasia telah mengabarkan hal itu kepada
ayah. Menurut analisa medis, para dokter sudah tak sanggup, dan itu
berarti dekatnya kematian. Tetapi, siapa yang mengabarkan ini semua
padanya?, atau ia memang merasa sudah datang waktunya?, “Mengapa
termenung? Apa yang engkau lamunkan?”, Nurah membuyarkan lamunanku.

“Apa kau mengira, hal ini kukatakan karena aku sedang sakit? Tidak.
Bahkan boleh jadi umurku lebih panjang dari umur orang-orang sehat.

Dan kamu, sampai kapan akan terus hidup? Mungkin 20 tahun lagi, 40
tahun atau… Lalu apa setelah itu? Kita tidak berbeda. Kita semua
pasti akan pergi, entah ke Surga atau ke Neraka. Apakah engkau belum
mendengar ayat: “Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dimasukkan ke
dalam Surga maka sungguh ia telah beruntung” ( Ali Imran:
185) “Sampai besok pagi,” ia menutup nasihatnya.

Aku bergegas meninggalkannya menuju kamar. Nasihatnya masih terngiang-
ngiang di gendang telingaku, “Semoga Allah memberimu petunjuk, jangan
lupa shalat!” Pagi hari…Jam dinding menunjukkan angka delapan pagi.
Terdengar pintu kamarku diketuk dari luar. “Pada jam ini biasanya aku
belum mau bangun” pikirku. Tetapi di luar terdengar suara gaduh,
orang banyak terisak. “Ya Rabbi, apa yang terjadi?”

“Mungkin Nurah…?, “firasatku berbicara. Dan benar, Nurah pingsan,
ayah segera melarikannya ke rumah sakit. Tidak ada rekreasi tahun
ini. Kami semua harus menunggui Nurah yang sedang sakit. Lama sekali
menunggu kabar dari rumah sakit dengan harap-harap cemas. Tepat pukul
satu siang, telepon di rumah kami berdering. Ibu segera
mengangkatnya. Suara ayah di seberang, ia menelpon dari rumah
sakit. “Kalian bisa pergi ke rumah sakit sekarang!,”
demikian pesan ayah singkat.

Kata ibu, tampak sekali ayah begitu panik, nada suaranya berbeda dari
biasanya.

“Mana sopir…?” kami semua terburu-buru: Kami menyuruh sopir
menjalankan mobil dengan cepat. Tapi ah, jalan yang biasanya terasa
dekat bila aku menikmatinya dalam perjalanan liburan, kini terasa
amat panjang, panjang dan lama sekali. Jalanan macet yang biasanya
kunanti-nantikan sehingga aku bisa menengok ke kanan-kiri, cuci mata,
kini terasa menyebalkan. Di sampingku, ibu berdo’a untuk keselamatan
Nurah.

“Dia anak shalihah. Ia tidak pernah menyia-nyiakan waktunya. Ia
begitu rajin beribadah”, ibu bergumam sendirian. Kami turun di depan
pintu rumah sakit. Kami segera masuk ruangan. Para pasien pada
tergeletak lunglai. Di sana sini terdengar lirih suara rintihan. Ada
yang baru saja masuk karena kecelakaan mobil, ada yang matanya buta,
ada yang mengerang keras. Pemandangan yang membuat bulu kudukku
merinding. Kami naik tangga eskalator menuju lantai atas. Nurah
berada di ruang perawatan intensif. Di depan pintu terpampang
papan peringatan: “Tidak boleh masuk lebih dari satu orang!” Kami
terperangah. Tak lama kemudian, seorang perawat datang menemui, kami.
Perawat memberitahu kalau kini kondisi Nurah mulai membaik, setelah
beberapa saat sebelumnya tak sadarkan diri.

Di tengah kerumunan para dokter yang merawat, dari sebuah lubang kecil
jendela yang ada di pintu, aku melihat kedua bola mata Nurah sedang
memandangiku. Ibu yang berdiri di sampingnya tak kuat menahan air
matanya. Waktu besuknya habis, ibu segera keluar dari ruang perawatan
intensif.

Kini tiba giliranku masuk. Dokter memperingatkan agar aku tidak banyak
mengajaknya bicara. Aku diberi waktu dua menit.

“Assalamu ‘alaikum!, bagaimana keadaanmu Nurah?, tadi malam, engkau
baik-baik saja. Apa yang terjadi denganmu?”, aku menghujaninya dengan
pertanyaan.

“Alhamdulillah, aku sekarang baik-baik saja, jawabnya dengan berusaha
tersenyum.

“Tapi, mengapa tanganmu dingin sekali, kenapa?” aku menyelidik. Aku
duduk di pinggir dipan. Lalu kucoba meraba betisnya, tapi ia segera
menjauhkannya dari jangkauanku.

“Ma’af, kalau aku mengganggumu!”, aku tertunduk.

“Tidak apa-apa. Aku hanya ingat firman Allah Ta’alaa:
“Dan bertaut betis(kiri) dengan betis(kanan), kepada Tuhanmullah pada
hari itu kami dihalau”. (Al-Qiyamah: 29-30)

Nurah melantunkan ayat suci Alquran. Aku menguatkan diri. Sekuat
tenaga aku berusaha untuk tidak menangis di hadapan Nurah, aku
membisu.

“Hanah, berdoalah untukku. Mungkin sebentar lagi aku akan menghadap.
Mungkin aku segera mengawali hari pertama kehidupanku di akhirat
Perjalananku amat jauh tapi bekalku sedikit sekali”.

Pertahananku runtuh. Air mataku tumpah. Aku menangis sejadi-jadinya.
Ayah mengkhawatirkan keadaanku. Sebab mereka tak pernah melihatku
menangis seperti itu. Bersamaan dengan tenggelamnya matahari pada
hari itu. Nurah meninggal dunia. Suasana begitu cepat berubah.
Seperti baru beberapa menit aku bebincang-bincang dengannya. Kini ia
telah meninggalkan kami buat selama-selamanya. Dan, ia tak akan
pernah bertemu lagi dengan kami. Tak akan pernah pulang lagi. Tidak
akan bersama-sama lagi. Oh Nurah Suasana di rumah
kami digelayuti duka yang amat dalam. Sunyi mencekam. Lalu pecah oleh
tangisan yang mengharu biru. Sanak kerabat dan tetangga berdatangan
melawat. Aku tidak bisa membedakan lagi, siapa-siapa yang datang,
tidak pula apa yang mereka percakapan.

Aku tenggelam dengan diriku sendiri. Ya Allah, bagaimana dengan
diriku? Apa yang bakal terjadi pada diriku? Aku tak kuasa lagi, meski
sekedar menangis. Aku ingin memberinya penghormatan terakhir. Aku
ingin menghantarkan salam terakhir. Aku ingin mencium keningnya.

Kini, tak ada sesuatu yang kuingat selain satu hal. Aku ingat firman
Allah yang dibacakannya kepadaku menjelang kematiannya. “Dan bertaut
betis (kiri) dengan betis (kanan)”. Aku kini benar-benar paham
bahwa “Kepada Tuhanmullah pada hari itu kamu dihalau”

“Aku tidak tahu, ternyata malam itu, adalah malam terakhir aku
menjumpainya di mushallanya. Malam ini, aku sendirian di mushalla
almarhumah terbayang kembali saudara kembarku, Nurah yang demikian
baik kepadaku. Dialah yang senantiasa menghibur kesedihanku, ikut
memahami dan merasakan kegalauanku, saudari yang selalu mendo’akanku
agar aku mendapat hidayah Allah, saudari yang senantiasa mengalirkan
air mata pada tiap-tiap pertengahan malam, yang selalu menasihatiku
tentang mati, hari perhitungan .ya Allah! Malam ini adalah malam
pertama bagi Nurah di kuburnya. Ya Allah, rahmatilah dia, terangilah
kuburnya. Ya Allah, ini mushaf Nurah, ini sajadahnya dan ini..ini
gaun merah muda yang pernah dikatakannya padaku, bakal dijadikan
kenangan manis pernikahannya.

Aku menangisi hari-hariku yang berlalu dengan sia-sia. Aku menangis
terus-menerus, tak bisa berhenti. Aku berdo’a kepada Allah semoga Dia
merahmatiku dan menerima taubatku. Aku mendo’akan Nurah agar mendapat
keteguhan dan kesenangan di kuburnya, sebagaimana ia begitu sering
dan suka mendo’akanku.

Tiba-tiba aku tersentak dengan pikiranku sendiri. “Apa yang terjadi
jika yang meninggal adalah aku? Bagaimana kesudahanku?” Aku tak
berani mencari jawabannya, ketakutanku memuncak. Aku menangis,
menangis lebih keras lagi. Allahu Akbar, Allahu Akbar…Adzan fajar
berkumandang.

Tetapi, duhai alangkah merdunya suara panggilan itu kali ini. Aku
merasakan kedamaian dan ketentraman yang mendalam. Aku jawab ucapan
muadzin, lalu segera kuhamparkan lipatan sajadah, selanjutnya aku
shalat Subuh. Aku shalat seperti keadaan orang yang hendak berpisah
selama-lamanya. Shalat yang pemah kusaksikan terakhir kali dari
saudari kembarku Nurah. Jika tiba waktu pagi, aku tak menunggu waktu
sore dan jika tiba waktu sore, aku tidak menunggu waktu pagi.

Orang orang Syurga

Saturday, June 14, 2008 by Joe Spyder · 0 comments



Kami terusir lagi. Pemerintah lokal Evosmos sepakat menendang ribuan etnis kami dari daerah juridiksi. Banyak orang menangis. Ini tak ada habisnya. Bertahun-tahun. Berpuluh tahun. Lelah. Tak tahan. Kenapa harus kami yang diperlakukan begini?
“Sampai kapan Yunani akan membenci kita?”
“Ke mana kita harus pergi?”
“Apa salah kami, Pak? Apa salah kami?!”

Wajah penguasa tidak sudi berubah. Benci dan terasa makin bengis saja pada kami. Pertanyaan hati dijawab dengan tangan besi. Main hardik, main badik. Caci maki bermuntahan lebih tajam dari timah panas manapun; melukai hati, membunuh harga diri. Sudah lama seperti itu. Sebelum hari ini, beragam tindakan telah menyisir kami secara rasis. Kami tidak mendapat pelayanan kesehatan, pendidikan, bahkan hak untuk diperlakukan secara manusiawi. Semua itu tidak kami dapatkan. Tidak seperti orang-orang asli negeri ini. Etnis kami adalah etis komedi pahit. Lelucon yang sadis—sebab kami melawak dengan adegan terjatuh, tersungkur, kesakitan. Slapstick. European dark skin, orang bilang.

“Yah, kita sekarang mau pergi ke mana?”
“Ayah dengar sementara kita akan ditampung di lokasi bekas camp latihan militer, Nak.”
“Berapa lama?”
Ayahku tak menjawab. Hanya menatap nanap ke arah Ibu yang tertatih-tatih; berusaha terus berjalan dengan membawa perutnya yang melembung besar. Kendati sudah dipapah, kehamilannya sangat menguras energi. Apalagi—kata Ayah—kandungan Ibu sudah masuk hari-hari yang rawan. Kemungkinan besar akan segera melahirkan. Aku masih ingat: Ayah begitu mendung saat menceritakan hal itu.
***

Aku ingin menengok masa lampau yang masih tampak buram. Kejadian hari ini pastilah berhubungan dengan sejarah. Silam. Mendapatkan perlakuan diskriminatif di usiaku yang hijau, bukanlah hal yang wajar dan bisa kuterima tanpa terbersit dua tiga ribu pertanyaan. Tak lazim. Mau tak mau, enggan tidak enggan, bertanya jadi pilihan. Kewajiban yang dituntut benak dan nurani. Siapa dan ada apa?

“Ayah tak tahu pasti, Nak. Tapi… sedikit banyak Ayah tahu.”
“Berceritalah, Ayah. Aku ingin dengar.”
Ayah memijiti pergelangan kaki Ibu. Kami tengah beristirahat. Bersama ribuan etnis kami lainnya, malam ini makhluk-makhluk berjuluk dingin mengigiti kulit. Menyusup ke pori-pori dan mengerutkan serabut syaraf—hingga mengerdil atau mengigil aneh. Tak ada fasilitas apa-apa untuk membaringkan tubuh, apalagi tidur. Cuma tanah dan batu-batu. Kasur? Alas penghangat badan? Mustahil saat ini. Terlalu mahal atau terlalu mewah untuk nyawa-nyawa kami.

“Merebahlah, Nak. Kau pasti lelah, bukan?”

Aku mengangguk. Meratakan tulang belakang, agak ke kanan—persis di samping Ibu. Menatap langit yang disesaki awan-awan. Agak kelabu—menghalangi bintang menghiasi angkasa dari pandangan. Semoga tidak turun hujan. Kalau takdir berkata lain, besar peluang sebagian besar dari kami akan basah kuyup. Tak ada apa-apa di sini. Tenda-tenda yang berdiri tidak menjamin. Sudah penuh dengan berjejal jantung-jantung para orang. Lihat saja kami. Tak kebagian. Seolah ibu hamil dan satu orang bocah sepertiku terlalu banyak. Dalam keadaan terdesak atau tertekan, orang-orang akan menunjukan sikap asli mereka. Yang egois akan mau menang sendiri, yang rapuh akan menangis, yang tabah akan tetap beradab dan memancarkan pribadinya nan mengagumkan.

“Ayah pernah dengar, etnis kita berasal dari India, Nak. Tapi, tepatnya di mana, Ayah sangat kabur. Yang jelas, dari wilayah konfederasi Rajput.”

“Apa itu konfederasi, Ayah? Dan, di mana India itu?”

Ayah tertawa. Tak tahu, utasnya jujur. Beliau begitulah. Sosok yang melupakan bohong untuk sekian lama. Bila Ayah tak tahu jawaban dari sebuah masalah, maka beliau tak akan segan untuk berkata tidak tahu atau mengendikan bahu Begitupun sebaliknya. Aku ikut terkekeh—walah sedikit. Sekali lagi, ada getir yang tertoreh pelan di sana. Ini masalah pendidikan yang senjang. Tertutup bagi kami. Dari zaman Kakek, Ayah… aku. Mungkin lebih lama dari itu dan mungkin akan lebih lama lagi.

“Mau Ayah lanjutkan, Nak?”
“Ya, Ayah. Tentu saja.”
“Tapi, jangan banyak bertanya, ya?”
“Baiklah.”

Gaun bulan terus merangkak. Angin berembus seraya memainkan senandung rangkak. Lidah Ayah masih berujar cerita. Tentang pengembaraan yang harus ditempuh etnis kami ketika terjadi perang panjang, penjarahan, dan penghancuran berkali-kali oleh kekaisaran Ghaznavid. Etnis kami harus hengkang pada (sekitar) tahun 1192. Terpaksa. Terancam masuk siklus perbudakkan dan pembantaian menjadi kecemasan kolektif. Siapa yang mau? Rasanya tidak ada.

Di episode berikutnya, nasib lain berkata pada kami. Kami—yang tadinya pergi serempak bersama-sama—terpecah. Ada yang menuju selatan, tapi tidak sedikit yang menuju ke barat India. Ke utara juga ada. Bahkan menurut kabar yang beredar, mereka berhasil mencapai lembah Upper-Indus melewati Kashmir. Lagi-lagi, jadi pengungsi.

“Setidaknya kita aman dari kekejaman kekaisaran Ghaznavid ’kan, Yah?”

“Kata siapa? Etnis kita masih disergap perasaan waswas, Nak. Kita dirundung kekhawatiran karena tentara Ghaznavid terus melakukan pengejaran—mengancam keselamatan kita.”

“Lalu?”
“Kita harus menyingkir dan mengalah menuju Persia. Dari negeri Persia, kita lalu memasuki daerah kekaisaran Trebizond—yang masyarakatnya berbahasa Armenia.”

“Bermukim?”
“Iya, tapi…”
“Tidak lama, bukan? Persis seperti keadaan kita sekarang, kan?!” Aku menukas cepat. Ayah cuma tersenyum samar. Tak keberatan kalimatnya kupangkas sampai segitu. Tak lama, tangan kasar miliknya mengusap kepalaku lembut. Pelan.

“Bersabarlah, Nak. Bersabarlah….”
“Aku bisa bersabar kok, Yah. Tapi aku bingung dengan kondisi Ibu. Bingung dengan adik bayi yang mau lahir. Nanti bagaimana kalau kita diusir lagi dari sini? Keadaan Ibu kan masih lemah….”

Ayah terhenyak. Aku kira begitu. Sekejap air mukanya berubah gundah. Aku jadi merasa bersalah. Untuk selanjutnya kukatupkan saja mulut ini. Kukancingkan saja sampai nanti pagi. Sekiranya masih tersisa pertanyaan, keluhan atau kecemasan yang menyapa di sisa malam itu, aku menyimpannya di kantong baju lusuhku. Lebih baik tak kuungkapkan sekarang. Sudah saatnya aku juga merasa kasihan pada Ayah.
***
“Ayah, kita tidak berhenti di Trebizond, bukan?”
“Oh, iya. Semalam belum selesai, ya?”

Aku berusaha keras sunggingkan senyum. Di tengah kerumunan orang-orang yang terusir, berubah tempramental atau tertekan adalah hal yang biasa. Stres, sakit kepala, atau menjadi gila adalah resiko yang dijejalkan kepada kami setiap hari. Berdansa tango di sekeliling risiko. Hidup segan, mati pun tidak mau. Mengambang di antara dua garis yang tak jelas. Aku tak mau begitu. Ayah sepertinya juga tak mau. Beliau cukup tabah sehingga tak larut dalam pemikiran atau perenungan yang tak berujung.

“Tak lama,” Ayah mengajakku pergi agak menjauh dari Ibu yang tengah beristirahat, ”karena ada perang, kita kembali terpaksa pindah, Nak. Menyingkir ke kekaisaran Byzantium menjadi satu-satunya pilihan. Kita kemudian memang menuju Konstantinopel dan menetap di sana. Kalau sekarang, daerah itu sudah berganti nama menjadi Istanbul,” tutur Ayah sembari sesekali memandang ke arah Ibu. Ibu butuh banyak ketenangan. Untuk itulah Ayah merangkulku menjauh dari tenda untuk melanjutkan ceritanya. Semalam, syukurlah dua orang pemuda yang baik hati menawari Ibu untuk menempati tempatnya di dalam sebuah tenda. Nampaknya dunia ini belum kehilangan orang-orang yang berjiwa mulia sepenuhnya.

“Di sini, etnis kita belajar banyak hal, Nak. Salah satunya bahasa Yunani. Di sini pulalah sistem kasta dalam etnis kita lenyap, bersamaan dengan terjadinya pernikahan silang antar keluarga-keluarga luas yang meninggalkan India. Mmm… di daerah ini jugalah etnis kita mulai berbicara dalam bahasa proto-Romani,” ungkap Ayah terus menerus—seolah tak mau berhenti. Kata-katanya padat dan jarang diselingi spasi. Sepertinya pada bagian ini, Ayah cukup paham jalan sejarah. Aku berusaha keras agar tidak ketinggalan ceritanya. Sekalinya aku kehilangan alur cerita Ayah, aku mendengar suara berderit dari arah perut beliau. Ayah lapar. Seperti aku. Tapi, Ayah tak mau mengatakannya di depanku—pun mengakuinya terang-terangan; melenguh, mengeluh, atau mencibirkan keadaan yang serba minus. Dalam diam aku kagum. Mungkin begitulah aku seharusnya kelak; saat jadi laki-laki dewasa atau mengepalai sebuah keluarga. Tangguh demi tanggung jawabku sebab memang begitulah persamaannya. Dijadikan laki-laki lebih kuat bukan untuk merendahkan atau mengintimidasi wanita, tapi untuk mengayominya. Melindunginya. Semua sudah ada jalannya. Sudah ada kodratnya.

“Ngg…”
“Ada apa, Nak?”
“Sehabis itu, apakah kita diusir lagi, Yah?”

“Bukan diusir,” Ayah tersenyum kecut, ”tapi terusir. Perang terjadi lagi sehingga Byzantium hancur. Ambruk. Yaa, terpaksa kita harus menyingkir lagi sebab kondisi. Situasi tak memungkinkan untuk kita bertahan terus di sana, Nak. Selanjutnya, etnis kita menempuh perjalanan yang panjang ke kawasan Balkan. Tepatnya pada abad ke-13. Perlahan, kita pun menuju ke daerah Rumania. Dari sana, kita menyebar menjadi kelompok-kelompok kecil ke segala penjuru arah. Setiap kelompok punya pemimpin yang akan membimbing dan memutuskan: apakah mereka akan tetap tinggal atau tidak pada daerah yang mereka datangi….”

“Terus, Yah?”
Belum sempat Ayah membuka mulutnya, vibra Ibu berlemparan di udara. Pita suaranya bergetar lirih. Gendang telinga Ayah segera menangkap bunyi cemas itu—lalu tersentak. Aku juga. Kami berdua serempak menengok ke arah tenda Ibu. Hati ini berdegup kencang sekali. Bergegas kami memburu dan melarikan kaki-kaki. Langkah-langkah berkejaran. Ibu kelihatan pucat. Lemah. Pias. Dahinya berpeluh gara-gara menahan sakit yang amat. Beliau terus memegangi perutnya sambil memekik pelan.

”Kenapa, Safa?!”
”Perutku… perutku…”
Mata Ayah bersiborok dengan mataku. Saat itulah aku tahu: Ibu akan melahirkan. Astaga. Sekedip itulah rasa takut menggurita di segenap jiwaku. Aku mulai cemas dan semakin cemas pada jengkal-jengkal waktu berikutnya. Setumpuk hal mulai kupertanyakan; tak bisa kutaklukkan. Misalnya… siapa yang akan membantu persalinan Ibu di tengah camp pengungsian seperti ini?! Butuh keajaiban untuk menemukan seorang ahli medis sekarang. Pun mayoritas orang-orang dari etnis kami adalah orang-orang yang tidak mengenyam bangku sekolah. Sekali lagi, bukan tak mau, tapi tidak diperbolehkan. Etnis kami memang terlalu mudah dizalimi. Tidak seperti etnis Turki yang memiliki negara induk, kami tidak punya satu pun negara yang sudi melindungi kami. Yang mau berjuang membela kami—bila pemerintah pemimpin negeri ini memperlakukan etnis kami secara tak adil. Perlakuan buruk sekecil apa pun terhadap etnis Turki di Thrace Barat—umumnya mereka memang bermukim di sana—pasti akan memicu kemarahan Istanbul. Namun, pemerintah negeri mana yang mau marah untuk kami? Negara mana?!

Aku sempat sedikit tahu dari Kakek—satu minggu sebelum kematiannya yang sangat tenang—kalau etnis kami pernah mengidentifikasi diri sebagai orang Turki. Dulu, jauh sebelum hari, minggu, bulan, dan tahun ini. Usai perang Turki-Yunani pada tahun 1923. Ide itu terbetik karena dipicu oleh perjanjian Laussane—yang mengakhiri perang di antara kedua negara yang bersangkutan. Namun, Yunani—dalam hal ini—terlalu keras. Strategi itu gagal total. Pada akhirnya, pemerintah kembali pada sikapnya yang tak ramah; tak kunjung sudi mengakui kami sebagai warga negara.

“Aaaaakhhhh! Ukkkh…. uhhhh!”
“Bertahan, Safa! Bertahanlah!”
“Aku tak tahan lagi!!!”
“Adakah yang bisa membantu istriku melahirkan?! Ada tidaaak?!!” Ayah kalap. Lengkingannya menjulur ke seluruh penjuru lokasi pengungsian. Syukurlah ada ruh-ruh bertubuh yang segera terpanggil di antara orang-orang yang cuma termangu—tak tahu harus bagaimana menyikapi permintaan Ayah. Aku menahan nafas. Aku merasa jadi makhluk paling tak berguna. Hanya sanggup nanar melihat dari pintu tenda pemandangan itu; pemandangan di mana ibuku meregang nyawa untuk mengeluarkan adikku dari rahimnya. Orang-orang yang membantu persalinan menelan ludah getir. Pendarahan banyak sekali. Bahkan terlalu banyak. Tapi, dengan apa harus menghentikannya?

Mungkin, inilah pertama kali di pengungsian ini kami bersama-sama melupakan soal kemalangan yang mendera kami. Rasa lapar, homeless, atau terbuang. Soal-soal itu menguap dan bersenyawa dengan harapan-harapan langit yang menyergap kami; tak lagi punya sifat atau karakter yang sama. Hilang. Musnah. Nyawa seseorang tengah di ujung jurang. Ayah melantunkan doa-doa terhebat yang bisa beliau rangkai—seraya terus mengusap keringat yang menjentik di kening Ibu. Menyemangatinya. Aku gemetar. Ada seorang laki-laki yang menyuruhku keluar. Tak baik katanya. Aku bersikeras tinggal.

Dia tak bisa memaksa. Entah kenapa aku tak ingin pergi dari tempatku berpijak. Melihat ibuku meronta, berteriak-teriak—sampai kukira tenggorokannya telah terbagi dua, bersimbah darah, membuatku tak tahu harus bernyali seperti apa. Berani seperti apa.

Aku memejamkan mata. Aku yakin: malaikat maut tengah berkunjung ke tenda ini. Itulah sebabnya aku berdoa dengan khidmat. Aku berharap doaku mampu mengusir malaikat itu agar tak mengambil hidup ibuku. Mungkin lain kali, tapi bukan sekarang. Jangan sekarang….
***

Ayah hanya berdiri mematung. Dengan kedua tangannya yang kokoh, beliau menggendong adik baruku. Memandang senja yang mulai pentas di ufuk barat. Panas yang kandas dipudar malam. Sedari tadi hanya begitu saja. Matanya kosong. Bulir-bulir air asin memburai dari pelupuknya.

“Safaaa!”
Ayah berteriak. Aku menunduk dan tak kuasa menahan air mata yang merayap pelan dari dua pelupuk. Ibuku benar-benar telah pergi. Dijemput malaikat untuk bertemu Sang Maha Pengasih. Duka selaksa. Kesedihan meradang dalam jiwa. Meranggas bahagia yang sekiranya hadir untuk adik tercinta. Adik bayi yang mungil dan tak tahu apa-apa. Bukan salahnya Ibu pergi, pun bukan karena doa Ayah dan aku tidak dikabulkan. Ini sudah takdir. Kami, sebagai manusia, tak punya daya sekejap saja guna menyangkalnya.

Ayah terpekur terus. Aku memutuskan untuk menghampirinya. Bukan untuk berbicara padanya, tapi untuk mengarang paragraf bingung bersama-sama. Kematian Ibu membuatku bimbang. Gamang. Mengenai Ayah, aku dan adik bayi. Sehabis ini, bagaimana nasib kami? Ahh, adikku sayang, adikku malang. Jangankan dia yang belum mengerti apa itu kesulitan hidup, orang-orang dewasa dari etnis kami pun sering merasa tak sanggup menjalaninya lagi. Mungkin itu yang kini dialami Ayah. Beliau murung untuk banyak hal.

“Yah?”
“…”
“Ayah?”
“Apa, Nak?”
“Adik bayi sudah diazani belum?”
Ayah menggeleng. Hatiku perih. Apa sebaiknya adikku memang tak usah diazani? Ya, mungkin dia lebih baik tak usah jadi seorang muslim. Menjadi seorang muslim bagi makhluk sekecil itu—di tanah asing ini—mungkin hanya akan membuatnya menderita lebih dahsyat. Mati lebih cepat. Menyusul Ibu. Melepas nyawa. Kalaupun dia hidup, akulah orang pertama yang tidak tega. Sangat mungkin adikku akan mendapatkan masalah yang sama seperti kami sebelum dia beranjak dewasa atau mungkin sebelum dia mengerti kata kenapa. Dihina, dicemooh, dikucilkan. Tiada mendapat pendidikan yang layak, kesehatan, tempat tinggal, bahkan kebebasan menjalankan agamanya. Dicap macam-macam. Pemalas, penyelundup, mafia, dan segala macam nama yang berkaitan dengan dunia kebejatan. Entah untuk sejarah dan bukti yang apa. Main tuduh saja.

“Yah?”
“…”
“Ayah?”
Ayah masih menangis dalam sunyi. Ketika aku sudah memutuskan untuk berhenti memanggilnya, beliau dengan perlahan mengazani adikku. Mataku kembali berembun. Ayah sudah menentukan. Ayah sudah meniatkan. Adik baruku akan jadi seorang muslim, seperti kami. Beliau akan mengajarinya ketauhidan, kerasulan, dan Islam.

“Menjadi muslim memang berat, Nak. Ayah tahu itu, kamu tahu itu. Beriman dalam Islam bukan sekadar bicara beriman pada Allah dan rasul-Nya, pada malaikat-Nya, pada kitab suci dan hari kiamat, dan pada qada dan qadar-Nya. Ya, tidak sekadar itu, tapi juga mengimani resiko kejahatan yang selalu mengintai kita di depan. Itulah yang kita hadapi sebagai etnis Atsingani, golongan terusir dan beragama muslim. Ke manapun kita, maka akan ada selalu orang-orang kafir yang membenci kita. Namun… dengarlah: sebiadab apapun mereka, sekejam apapun mereka menekan kita, Islam harus tetap di dalam dada kita, Nak. Kapan kita mati itu tidak penting bagi seorang muslim. Yang penting adalah bagaimana cara kita mati; apakah kita mati dalam keadaan beriman atau tidak. Tenanglah…. kita akan baik-baik saja. Ayah, kau dan adik barumu. Kita mungkin tak punya rumah yang tetap di atas bumi ini, tapi semoga saja Allah sudi membangunkan kita sebuah rumah di surga nanti….”

Aku mengangguk untuk mengenyahkan kesalahanku. Ya, sesulit apapun hidup kami di masa depan, kami tetap dan harus tetap menjadi seorang muslim. Sampai di mana pun. Sampai kapan pun.
Kutipan : http://www.ummigroup.co.id/annida

Ketika Kepergiaan seorang sangat berati

Saturday, June 14, 2008 by Joe Spyder · 2 comments

Oleh : Helvi Tyana Rosa
Mas gagah berubah! Ya, beberapa bulan belakangan ini masku, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah!

Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Tehnik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja…ganteng !Mas Gagah juga sudah mampu membiayai sekolahnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk anak-anak SMA.

Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku ke mana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak bagiku.

Saat memasuki usia dewasa, kami jadi semakin dekat. Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film atau konser musik atau sekedar bercanda dengan teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelocon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan-makan dulu di restoran, atau bergembira ria di Dufan Ancol.

Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya.

"Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih?"

"Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang rumahku suka membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Gagah lho! Gila, berabe kan?!"

"Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku?"

Dan banyak lagi lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku Cuma mesem-mesem bangga.

Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum juga punya pacar. Apa jawabnya?

"Mas belum minat tuh! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran…, banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati! He..he..he…"Kata Mas Gagah pura-pura serius.

Mas Gagah dalam pandanganku adalah cowok ideal. Ia serba segalanya. Ia punya rancangan masa depan, tetapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tetapi tidak pernah meninggalkan shalat!

Itulah Mas Gagah!

Tetapi seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan ini ia berubah! Drastis! Dan aku seolah tak mengenal dirinya lagi. Aku sedih. Aku kehilangan. Mas Gagah yang kubanggakan kini entah kemana…

"Mas Gagah! Mas! Mas Gagaaaaaahhh!" teriakku kesal sambil mengetuk pintu kamar Mas Gagah keras-keras. Tak ada jawaban. Padahal kata Mama, Mas Gagah ada di kamarnya. Kulihat stiker metalik di depan pintu kamar Mas Gagah. Tulisan berbahasa Arab gundul. Tak bisa kubaca. Tetapi aku bisa membaca artinya: Jangan masuk sebelum memberi salam!

"Assalaamu’alaikum!"seruku.

Pintu kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Mas Gagah.

"Wa alaikummussalaam warohmatullahi wabarokatuh. Ada apa Gita? Kok teriak-teriak seperti itu?" tanyanya.

"Matiin kasetnya!"kataku sewot.

"Lho memangnya kenapa?"

"Gita kesel bin sebel dengerin kasetnya Mas Gagah! Memangnya kita orang Arab…, masangnya kok lagu-lagu Arab gitu!" aku cemberut.

"Ini Nasyid. Bukan sekedar nyanyian Arab tapi dzikir, Gita!"

"Bodo!"

"Lho, kamar ini kan daerah kekuasaannya Mas. Boleh Mas melakukan hal-hal yang Mas sukai dan Mas anggap baik di kamar sendiri," kata Mas Gagah sabar. "Kemarin waktu Mas pasang di ruang tamu, Gita ngambek.., Mama bingung. Jadinya ya dipasang di kamar."

"Tapi kuping Gita terganggu Mas! Lagi asyik dengerin kaset Air Supply yang baru…,eh tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamar Mas!"

"Mas kan pasang kasetnya pelan-pelan…"

"Pokoknya kedengaran!"

"Ya, wis. Kalau begitu Mas ganti aja dengan nasyid yang bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bagus lho!"

"Ndak, pokoknya Gita nggak mau denger!" Aku ngeloyor pergi sambil membanting pintu kamar Mas Gagah.

Heran. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa selera musik Mas Gagah jadi begitu. Ke mana kaset-kaset Scorpion, Wham, Elton John, Queen, Eric Claptonnya?"

"Wah, ini nggak seperti itu Gita! Dengerin Scorpion atau Eric Clapton belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala. Lainlah ya dengan nasyid senandung islami. Gita mau denger? Ambil aja di kamar. Mas punya banyak kok!" begitu kata Mas Gagah.

Oala.

Sebenarnya perubahan Mas Gagah nggak Cuma itu. Banyak. Terlalu banyak malah! Meski aku cuma adik kecilnya yang baru kelas dua SMA, aku cukup jeli mengamati perubahan-perubahan itu. Walau bingung untuk mencernanya.

Di satu sisi kuakui Mas Gagah tambah alim. Shalat tepat waktu berjamaah di Mesjid, ngomongnya soal agama terus. Kalau aku iseng mengintip dari lubang kunci, ia pasti lagi ngaji atau membaca buku Islam. Dan kalau aku mampir ke kamarnya, ia dengan senang hati menguraikan isi buku yang dibacanya, atau malah menceramahiku. Ujung-ujungnya "Ayo dong Gita, lebih feminim. Kalau kamu mau pakai rok, Mas rela deh pecahin celengan buat beliin kamu rok atau baju panjang. Muslimah kan harus anggun. Coba adik manis, ngapain sih rambut ditrondolin begitu!"

Uh. Padahal dulu Mas Gagah oke-oke saja melihat penampilanku yang tomboy. Dia tahu aku cuma punya dua rok! Ya rok seragam sekolah itu saja! Mas Gagah juga tidak pernah keberatan kalau aku meminjam baju kaos atau kemejanya. Ia sendiri dulu selalu memanggilku Gito, bukan Gita! Eh sekarang pakai panggil adik manis segala!

Hal lain yang nyebelin, penampilan Mas Gagah jadi aneh. Sering juga Mama menegurnya.

"Penampilanmu kok sekarang lain Gah?"

"Lain gimana Ma?"

"Ya nggak semodis dulu. Nggak dendy lagi. Biasanya kamu kan paling sibuk sama penampilan kamu yang kayak cover boy itu…"

Mas Gagah cuma senyum. "Suka begini Ma. Bersih, rapi meski sederhana. Kelihatannya juga lebih santun."

Ya, dalam pandanganku Mas Gagah kelihatan menjadi lebih kuno, dengan kemeja lengan panjang atau baju koko yang dipadu dengan celana panjang semi baggy-nya. "Jadi mirip Pak Gino." Komentarku menyamakannya dengan supir kami. "Untung aja masih lebih ganteng."

Mas Gagah cuma tertawa. Mengacak-acak rambutku dan berlalu. Mas Gagah lebih pendiam? Itu juga kurasakan. Sekarang Mas Gagah nggak kocak seperti dulu. Kayaknya dia juga males banget ngobrol lama dan bercanda sama perempuan. Teman-temanku bertanya-tanya. Thera, peragawati sebelah rumah kebingungan.

Dan..yang paling gawat, Mas Gagah emoh salaman sama perempuan! Kupikir apa sih maunya Mas Gagah?"

"Sok kece banget sih Mas? Masak nggak mau jabatan tangan sama Tresye? Dia tuh cewek paling beken di sanggar Gita tahu?" tegurku suatu hari. "Jangan gitu dong. Sama aja nggak menghargai orang!"

"Justru karena Mas menghargai dia, makanya Mas begitu," dalihnya, lagi-lagi dengan nada yang amat sabar. "Gita lihat kan gaya orang Sunda salaman? Santun tetapi nggak sentuhan. Itu yang lebih benar!"

Huh, nggak mau salaman. Ngomong nunduk melulu…, sekarang bawa-bawa orang Sunda. Apa hubungannya?"

Mas Gagah membuka sebuah buku dan menyorongkannya kepadaku."Baca!"

Kubaca keras-keras. "Dari Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah, demi Allah, Rasulullah Saw tidak pernah berjabatan tangan dengan wanita kecuali dengan mahromnya. Hadits Bukhori Muslim."

Mas Gagah tersenyum.

"Tapi Kyai Anwar mau salaman sama Mama. Haji Kari, Haji Toto, Ustadz Ali…," kataku.

"Bukankah Rasulullah qudwatun hasanah? Teladan terbaik?" Kata Mas Gagah sambil mengusap kepalaku. "Coba untuk mengerti ya dik manis?"

Dik manis? Coba untuk mengerti? Huh! Dan seperti biasa aku ngeloyor pergi dari kamar Mas Gagah dengan mangkel.

Menurutku Mas Gagah terlalu fanatik. Aku jadi khawatir, apa dia lagi nuntut ilmu putih? Ah, aku juga takut kalau dia terbawa orang-orang sok agamis tapi ngawur. Namun akhirnya aku tidak berani menduga demikian. Mas Gagah orangnya cerdas sekali. Jenius malah. Umurnya baru dua puluh satu tahun tetapi sudah tingkat empat di FT-UI. Dan aku yakin mata batinnya jernih dan tajam. Hanya…yaaa akhir-akhir ini dia berubah. Itu saja. Kutarik napas dalam-dalam.

"Mau kemana Gita?"

"Nonton sama temen-temen." Kataku sambil mengenakan sepatu."Habis Mas Gagah kalau diajak nonton sekarang kebanyakan nolaknya."

"Ikut Mas aja yuk!"

"Ke mana? Ke tempat yang waktu itu lagi? Ogah. Gita kayak orang bego di sana!"

Aku masih ingat jelas. Beberapa waktu lalu Mas Gagah mengajak aku ke rumah temannya. Ada pengajian. Terus pernah juga aku diajak menghadiri tablig akbar di suatu tempat. Bayangin, berapa kali aku diliatin sama cewek lain yang kebanyakan berjilbab itu. Pasalnya aku ke sana dengan memakai kemeja lengan pendek, jeans belel dan ransel kumalku. Belum lagi rambut trondol yang tidak bisa disembunyiin. Sebenarnya Mas Gagah menyuruhku memakai baju panjang dan kerudung yang biasa Mama pakai ngaji. Aku nolak sambil ngancam nggak mau ikut.

"Assalamualaikum!" terdengar suara beberapa lelaki.
Mas Gagah menjawab salam itu. Tak lama kulihat Mas Gagah dan teman-temannya di ruang tamu. Aku sudah hafal dengan teman-teman Mas Gagah. Masuk, lewat, nunduk-nunduk, nggak ngelirik aku…, persis kelakuannya Mas Gagah.

"Lewat aja nih, Gita nggak dikenalin?"tanyaku iseng.

Dulu nggak ada teman Mas Gagah yang tak akrab denganku. Tapi sekarang, Mas Gagah bahkan nggak memperkenalkan mereka padaku. Padahal teman-temannya lumayan handsome.
Mas Gagah menempelkan telunjuknya di bibir. "Ssssttt."

Seperti biasa aku bisa menebak kegiatan mereka. Pasti ngomongin soal-soal keislaman, diskusi, belajar baca Quran atau bahasa Arab… yaa begitu deh!

"Subhanallah, berarti kakak kamu ihkwan dong!" Seru Tika setengah histeris mendengar ceritaku. Teman akrabku ini memang sudah hampir sebulan berjilbab rapi. Memusiumkan semua jeans dan baju-baju you can see-nya.

"Ikhwan?’ ulangku. "Makanan apaan tuh? Saudaranya bakwan atau tekwan?" Suaraku yang keras membuat beberapa makhluk di kantin sekolah melirik kami.

"Husy, untuk laki-laki ikhwan dan untuk perempuan akhwat. Artinya saudara. Biasa dipakai untuk menyapa saudara seiman kita." Ujar Tika sambil menghirup es kelapa mudanya. "Kamu tahu Hendra atau Isa kan? Aktivis Rohis kita itu contoh ikhwan paling nyata di sekolah ini."

Aku manggut-manggut. Lagak Isa dan Hendra memang mirip Mas Gagah.

"Udah deh Git. Nggak usah bingung. Banyak baca buku Islam. Ngaji. Insya Allah kamu akan tahu menyeluruh tentang agama kita ini. Orang-orang seperti Hendra, Isa atau Mas Gagah bukanlah orang-orang yang error. Mereka hanya berusaha mengamalkan Islam dengan baik dan benar. Kitanya aja yang belum ngerti dan sering salah paham."

Aku diam. Kulihat kesungguhan di wajah bening Tika, sobat dekatku yang dulu tukang ngocol ini. Tiba-tiba di mataku ia menjelma begitu dewasa.

"Eh kapan kamu main ke rumahku? Mama udah kangen tuh! Aku ingin kita tetap dekat Gita…mesti kita mempunyai pandangan yang berbeda, " ujar Tika tiba-tiba.

"Tik, aku kehilangan kamu. Aku juga kehilangan Mas Gagah…" kataku jujur. "Selama ini aku pura-pura cuek tak peduli. Aku sedih…"

Tika menepuk pundakku. Jilbab putihnya bergerak ditiup angin." Aku senang kamu mau membicarakan hal ini denganku. Nginap di rumah, yuk, biar kita bisa cerita banyak. Sekalian kukenalkan dengan Mbak Ana.

"Mbak Ana?"

"Sepupuku yang kuliah di Amerika! Lucu deh, pulang dari Amerika malah pakai jilbab. Ajaib. Itulah hidayah.

"Hidayah."

"Nginap ya. Kita ngobrol sampai malam dengan Mbak Ana!"

"Assalaamualaikum, Mas ikhwan.. eh Mas Gagah!" tegurku ramah.

‘Eh adik Mas Gagah! Dari mana aja? Bubar sekolah bukannya langsung pulang!" Kata Mas Gagah pura-pura marah, usai menjawab salamku.

"Dari rumah Tika, teman sekolah, "jawabku pendek. "Lagi ngapain, Mas?"tanyaku sambil mengitari kamarnya. Kuamati beberapa poster, kaligrafi, gambar-gambar pejuang Palestina, Kashmir dan Bosnia. Puisi-puisi sufistik yang tertempel rapi di dinding kamar. Lalu dua rak koleksi buku keislaman…

"Cuma lagi baca!"

"Buku apa?"

"Tumben kamu pingin tahu?"

"Tunjukkin dong, Mas…buku apa sih?"desakku.

"Eiit…eiitt Mas Gagah berusaha menyembunyikan bukunya.
Kugelitik kakinya. Dia tertawa dan menyerah. "Nih!"serunya memperlihatkan buku yang tengah dibacanya dengan wajah yang setengah memerah.

"Naah yaaaa!"aku tertawa. Mas Gagah juga. Akhirnya kami bersama-sama membaca buku "Memilih Jodoh dan Tata Cara Meminang dalam Islam" itu.

"Maaas…"

"Apa Dik Manis?"

"Gita akhwat bukan sih?"

"Memangnya kenapa?"

"Gita akhwat atau bukan? Ayo jawab…" tanyaku manja.

Mas Gagah tertawa. Sore itu dengan sabar dan panjang lebar, ia berbicara padaku. Tentang Allah, Rasulullah. Tentang ajaran Islam yang diabaikan dan tak dipahami umatnya. Tentang kaum Muslimin di dunia yang selalu menjadi sasaran fitnah serta pembantaian dan tentang hal-hal-lainnya. Dan untuk pertamakalinya setelah sekian lama, aku kembali menemukan Mas Gagahku yang dulu.

Mas Gagah dengan semangat terus bicara. Terkadang ia tersenyum, sesaat sambil menitikan air mata. Hal yang tak pernah kulihat sebelumnya.

"Mas kok nangis?"

"Mas sedih karena Allah, Rasul dan Islam kini sering dianggap remeh. Sedih karena umat banyak meninggalkan Quran dan sunnah, juga berpecah belah. Sedih karena saat Mas bersenang-senang dan bisa beribadah dengan tenang, saudara-saudara seiman di belahan bumi lainnya sedang digorok lehernya, mengais-ngais makanan di jalan dan tidur beratap langit."

Sesaat kami terdiam. Ah Mas Gagah yang gagah dan tegar ini ternyata sangat perasa. Sangat peduli…

"Kok tumben Gita mau dengerin Mas ngomong?" Tanya Mas Gagah tiba-tiba.

"Gita capek marahan sama Mas Gagah!" ujarku sekenanya.

"Memangnya Gita ngerti yang Mas katakan?"

"Tenang aja. Gita ngerti kok!" kataku jujur. Ya, Mbak Ana juga pernah menerangkan demikian. Aku ngerti deh meskipun tidak begitu mendalam.

Malam itu aku tidur ditemani buku-buku milik Mas Gagah. Kayaknya aku dapat hidayah.

Hari-hari berlalu. Aku dan Mas Gagah mulai dekat lagi seperti dulu. Meski aktifitas yang kami lakukan bersama kini berbeda dengan yang dulu. Kini tiap Minggu kami ke Sunda Kelapa atau Wali Songo, mendengarkan ceramah umum, atau ke tempat-tempat di mana tablig akbar digelar. Kadang cuma aku dan Mas Gagah. Kadang-kadang, bila sedikit terpaksa, Mama dan Papa juga ikut.

"Apa nggak bosan, Pa…tiap Minggu rutin mengunjungi relasi ini itu. Kebutuhan rohaninya kapan?" tegurku.Biasanya Papa hanya mencubit pipiku sambil menyahut, "Iya deh, iya!"

Pernah juga Mas Gagah mengajakku ke acara pernikahan temannya. Aku sempat bingung, soalnya pengantinnya nggak bersanding tetapi terpisah. Tempat acaranya juga begitu. Dipisah antara lelaki dan perempuan. Terus bersama souvenir, para tamu juga diberi risalah nikah. Di sana ada dalil-dalil mengapa walimah mereka dilaksanakan seperti itu. Dalam perjalanan pulang, baru Mas Gagah memberi tahu bagaimana hakikat acara pernikahan dalam Islam. Acara itu tidak boleh menjadi ajang kemaksiatan dan kemubaziran. Harus Islami dan semacamnya. Ia juga mewanti-wanti agar aku tidak mengulangi ulah mengintip tempat cowok dari tempat cewek.
Aku nyengir kuda.

Tampaknya Mas Gagah mulai senang pergi denganku, soalnya aku mulai bisa diatur. Pakai baju yang sopan, pakai rok panjang, ketawa nggak cekakaan.
"Nyoba pakai jilbab. Git!" pinta Mas Gagah suatu ketika.
"Lho, rambut Gita kan udah nggak trondol. Lagian belum mau deh jreng.

Mas Gagah tersenyum. "Gita lebih anggun jika pakai jilbab dan lebih dicintai Allah kayak Mama."

Memang sudah beberapa hari ini Mama berjilbab, gara-garanya dinasihati terus sama Mas Gagah, dibeliin buku-buku tentang wanita, juga dikomporin oleh teman-teman pengajian beliau.

"Gita mau tapi nggak sekarang," kataku. Aku memikirkan bagaimana dengan seabreg aktivitasku, prospek masa depan dan semacamnya.

"Itu bukan halangan." Ujar Mas Gagah seolah mengerti jalan pikiranku.
Aku menggelengkan kepala. Heran, Mama yang wanita karier itu cepat sekali terpengaruh dengan Mas Gagah.

"Ini hidayah, Gita." Kata Mama. Papa yang duduk di samping beliau senyum-senyum.

"Hidayah? Perasaan Gita duluan yang dapat hidayah, baru Mama. Gita pakai rok aja udah hidayah.

"Lho! " Mas Gagah bengong.

Dengan penuh kebanggaan kutatap lekat wajah Mas Gagah. Gimana nggak bangga? Dalam acara studi tentang Islam yang diadakan FTUI untuk umum ini, Mas Gagah menjadi salah satu pembicaranya. Aku yang berada di antara ratusan peserta rasanya ingin berteriak, "Hei itu kan Mas Gagah-ku!"

Mas Gagah tampil tenang. Gaya penyampaiannya bagus, materi yang dibawakannya menarik dan retorikanya luar biasa. Semua hening mendengar ia bicara. Aku juga. Mas Gagah fasih mengeluarkan ayat-ayat Quran dan hadits. Menjawab semua pertanyaan dengan baik dan tuntas. Aku sempat bingung, "Lho Mas Gagah kok bisa sih?" Bahkan materi yang disampaikannya jauh lebih bagus daripada yang dibawakan oleh kyai-kyai kondang atau ustadz tenar yang biasa kudengar.

Pada kesempatan itu Mas Gagah berbicara tentang Muslimah masa kini dan tantangannya dalam era globalisasi. "Betapa Islam yang jelas-jelas mengangkat harkat dan martabat wanita, dituduh mengekang wanita hanya karena mensyariatkan jilbab. Jilbab sebagai busana takwa, sebagai identitas Muslimah, diragukan bahkan oleh para muslimah kita, oleh orang Islam itu sendiri, " kata Mas Gagah.
Mas Gagah terus bicara. Kini tiap katanya kucatat di hati.

Lusa ulang tahunku. Dan hari ini sepulang sekolah, aku mampir ke rumah Tika. Minta diajarkan cara memakai jilbab yang rapi. Tuh anak sempat histeris juga. Mbak Ana senang dan berulang kali mengucap hamdallah.

Aku mau kasih kejutan kepada Mas Gagah. Mama bisa dikompakin. Nanti sore aku akan mengejutkan Mas Gagah. Aku akan datang ke kamarnya memakai jilbab putihku. Kemudian mengajaknya jalan-jalan untuk persiapkan tasyakuran ulang tahun ketujuh belasku.
Kubayangkan ia akan terkejut gembira. Memelukku. Apalagi aku ingin Mas Gagah yang memberi ceramah pada acara syukuran yang insya Allah akan mengundang teman-teman dan anak-anak yatim piatu dekat rumah kami.

"Mas ikhwan! Mas Gagah! Maasss! Assalaamualaikum! Kuketuk pintu Mas Gagah dengan riang.

"Mas Gagah belum pulang. "kata Mama.

"Yaaaaa, kemana sih, Ma??" keluhku.

"Kan diundang ceramah di Bogor. Katanya langsung berangkat dari kampus…"

"Jangan-jangan nginep, Ma. Biasanya malam Minggu kan suka nginep di rumah temannya, atau di Mesjid. "

"Insya Allah nggak. Kan Mas Gagah ingat ada janji sama Gita hari ini." Hibur Mama menepis gelisahku.

Kugaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Entah mengapa aku kangen sekali sama Mas Gagah.

"Eh, jilbab Gita mencong-mencong tuh!" Mama tertawa.
Tanganku sibuk merapikan jilbab yang kupakai. Tersenyum pada Mama.

Sudah lepas Isya’ Mas Gagah belum pulang juga.

"Mungkin dalam perjalanan. Bogor kan lumayan jauh.." hibur Mama lagi.

Tetapi detik demi detik menit demi menit berlalu sampai jam sepuluh malam, Mas Gagah belum pulang juga.

"Nginap barangkali, Ma." Duga Papa.

Mama menggeleng. "Kalau mau nginap Gagah selalu bilang, Pa."

Aku menghela napas panjang. Menguap. Ngantuk. Jilbab putih itu belum juga kulepaskan. Aku berharap Mas Gagah segera pulang dan melihatku memakainya.

"Kriiiinggg!" telpon berdering.

Papa mengangkat telpon,"Hallo. Ya betul. Apa? Gagah?"

"Ada apa, Pa." Tanya Mama cemas.

"Gagah…kecelakaan…Rumah Sakit Islam…" suara Papa lemah.

"Mas Gagaaaaahhhh!!!" Air mataku tumpah. Tubuhku lemas.
Tak lama kami sudah dalam perjalanan menuju Cempaka Putih. Aku dan Mama menangis berangkulan. Jilbab kami basah.

Dari luar kamar kaca, kulihat tubuh Mas Gagah terbaring lemah. Kaki, tangan dan kepalanya penuh perban. Informasi yang kudengar sebuah truk menghantam mobil yang dikendarai Mas Gagah. Dua teman Mas Gagah tewas seketika sedang Mas Gagah kritis.
Dokter melarang kami masuk ke dalam ruangan.

" Tetapi saya Gita adiknya, Dok! Mas Gagah pasti mau melihat saya pakai jilbab ini." Kataku emosi pada dokter dan suster di depanku.

Mama dengan lebih tenang merangkulku. "Sabar sayang, sabar."

Di pojok ruangan Papa dengan serius berbicara dengan dokter yang khusus menangani Mas Gagah. Wajah mereka suram.

"Suster, Mas Gagah akan hidup terus kan, suster? Dokter? Ma?" tanyaku. "Papa, Mas Gagah bisa ceramah pada acara syukuran Gita kan?" Air mataku terus mengalir.

Tapi tak ada yang menjawab pertanyaanku kecuali kebisuan dinding-dinding putih rumah sakit. Dan dari kaca kamar, tubuh yang biasanya gagah dan enerjik itu bahkan tak bergerak.

"Mas Gagah, sembuh ya, Mas…Mas..Gagah, Gita udah menjadi adik Mas yang manis. Mas..Gagah…" bisikku.

Tiga jam kemudian kami masih berada di rumah sakit. Sekitar ruang ICU kini telah sepi. Tinggal kami dan seorang bapak paruh baya yang menunggui anaknya yang juga dalam kondisi kritis. Aku berdoa dan terus berdoa. Ya Allah, selamatkan Mas Gagah…Gita, Mama, Papa butuh Mas Gagah…umat juga."

Tak lama Dokter Joko yang menangani Mas Gagah menghampiri kami. "Ia sudah sadar dan memanggil nama Papa, Mama dan Gi.."

"Gita…" suaraku serak menahan tangis.

Pergunakan waktu yang ada untuk mendampinginya sesuai permintaannya. Sukar baginya untuk bertahan. Maafkan saya…lukanya terlalu parah." Perkataan terakhir dokter Joko mengguncang perasaan, menghempaskan harapanku!.

"Mas…ini Gita Mas.." sapaku berbisik.

Tubuh Mas Gagah bergerak sedikit. Bibirnya seolah ingin mengucapkan sesuatu.
Kudekatkan wajahku kepadanya. "Gita sudah pakai jilbab, kataku lirih. Ujung jilbabku yang basah kusentuhkan pada tangannya."

Tubuh Mas Gagah bergerak lagi.

"Dzikir…Mas." Suaraku bergetar. Kupandang lekat-lekat tubuh Mas Gagah yang separuhnya memakai perban. Wajah itu begitu tenang.

"Gi..ta…"
Kudengar suara Mas Gagah! Ya Allah, pelan sekali.

"Gita di sini, Mas…"
Perlahan kelopak matanya terbuka.

"Aku tersenyum."Gita…udah pakai…jilbab…" kutahan isakku.
Memandangku lembut Mas Gagah tersenyum. Bibirnya seolah mengucapkan sesuatu seperti hamdallah.

"Jangan ngomong apa-apa dulu, Mas…" ujarku pelan ketika kulihat ia berusaha lagi untuk mengatakan sesuatu.

Mama dan Papa memberi isyarat untuk gantian. Ruang ICU memang tidak bisa dimasuki beramai-ramai. Dengan sedih aku keluar. Ya Allah…sesaat kulihat Mas Gagah tersenyum. Tulus sekali. Tak lama aku bisa menemui Mas Gagah lagi. Dokter mengatakan tampaknya Mas Gagah menginginkan kami semua berkumpul.

Kian lama kurasakan tubuh Mas gagah semakin pucat, tetapi sebentar-sebentar masih tampak bergerak. Tampaknya ia masih bisa mendengar apa yang kami katakan, meski hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan isyarat mata.

Kuusap setitik lagi air mata yang jatuh. "Sebut nama Allah banyak-banyak…Mas," kataku sambil menggenggam tangannya. Aku sudah pasrah pada Allah. Aku sangat menginginkan Mas Gagah terus hidup, tetapi sebagai insan beriman sebagaimana yang juga diajarkan Mas Gagah, aku pasrah pada ketentuan Allah. Allah tentu tahu apa yang terbaik bagi Mas Gagah.

"Laa…ilaaha…illa..llah…Muham…mad Ra..sul …Allah… suara Mas Gagah pelan, namun tak terlalu pelan untuk bisa kami dengar.

Mas Gagah telah kembali kepada Allah. Tenang sekali. Seulas senyum menghiasi wajahnya. Aku memeluk tubuh yang terbujur kaku dan dingin itu kuat-kuat. Mama dan Papa juga. Isak kami bersahutan walau kami rela dia pergi. Selamat jalan Mas Gagah.

Epilog:

Kubaca berulang kali kartu ucapan Mas Gagah. Keharuan memenuhi rongga-rongga dadaku. Gamis dan jilbab hijau muda, manis sekali. Akh, ternyata Mas Gagah telah mempersiapkan kado untuk hari ulang tahunku. Aku tersenyum miris.

Kupandangi kamar Mas Gagah yang kini lengang. Aku rindu panggilan dik manis, aku rindu suara nasyid. Rindu diskusi-diskusi di kamar ini. Rindu suara merdu Mas Gagah melantunkan kalam Illahi yang selamanya tiada kan kudengar lagi. Hanya wajah para mujahid di dinding kamar yang menatapku. Puisi-puisi sufistik yang seolah bergema d iruangan ini.

Setitik air mataku jatuh lagi.

"Mas, Gita akhwat bukan sih?"

"Ya, insya Allah akhwat!"

"Yang bener?"

"Iya, dik manis!"

"Kalau ikhwan itu harus ada janggutnya, ya?!"

"Kok nanya gitu sih?"

"Lha, Mas Gagah kan ada janggutnya?"

"Ganteng kan?"

"Uuuuu! Eh, Mas, kita kudu jihad ya?" Jihad itu apa sih?"

"Ya always dong, jihad itu…"

Setetes, dua tetes air mataku kian menganak sungai. Kumatikan lampu. Kututup pintu kamarnya pelan-pelan. Selamat jalan Mas Ikhwan!Selamat jalan Mas Gagah!

Buat ukhti manis Gita Ayu Pratiwi, Semoga memperoleh umur yang berkah,
Dan jadilah muslimah sejati
Agar Allah selalu besertamu.
Sun sayang,
Mas Ikhwan, eh Mas Gagah!





Menengok Tanah Impian

Saturday, June 14, 2008 by Joe Spyder · 0 comments



“Huek, huek… huuk!” Akhirnya muntah juga. Perutku seperti diaduk-aduk. Bau busuk rasanya tak hilang-hilang dari hidungku.
“Masya Allah, telurnya busuk. Nggak jadi deh orak-arik kangkungnya!” Aku bergumam kesal. Segera aku mengangkat wajan dan membawanya keluar. Mantan orak-arik kangkungku kubuang perlahan di tempat sampah. “Tapi ganti sayur apa?” tanyaku dalam hati. Tak lama aku mendapat ide.
“Bu Is, minta kangkungnya, ya,” kataku pada tetangga paling dekat rumah.
“Ambil sajalah, Mbak.” Bu Is, tetangga baruku, menjawab dari dalam rumahnya.
Aku segera mengambil pisau dan wadah. Dengan gesit kupetik batang-batang kangkung di kebun belakang rumah Bu Is. Alhamdulillah, tidak perlu ke pasar untuk beli sayuran lagi. Satu genggam cukuplah untuk makan berdua. Aku cepat-cepat mencuci dan memasaknya.
“Abi, tahu nggak?”
“Apanya?” tanya suamiku sambil menyendok nasinya lambat-lambat. Begitulah dia, makannya lambat. Bahkan lebih lambat dariku. Padahal, aku ini kalau makan dari dulu sudah paling lambat dibanding teman-teman kosku.
“Ummi tadi masak sayurnya sampai dua ronde, lho! Gara-gara telurnya busuk. Telur yang dijual di sini banyak yang busuk ya, Bi?”
“Ya, memang begitu,” jawabnya ringan.
“Kalau di Jawa nggak ada yang sengaja jualan telur busuk. Tapi kata Bu Is, di sini lain.” Suaraku menggantung.
“Ummi jangan samakan Jawa dengan Timika sini. Kita harus pandai-pandai menyesuaikan diri.” Pesan sponsor suamiku itu selalu kudengar kalau aku sudah cerita, tepatnya membandingkan, Jawa dengan Papua.
Kesan pertama tinggal di sini memang tak menggoda. Sampah-sampah menumpuk di pinggir-pinggir jalan. Belum lagi ludah merah, bekas orang mengunyah buah pinang dan kapur sirih, ada di mana-mana, tak sedap dipandang. Dan pasarnya…. luar biasa beceknya.
Pengalaman belanja di pasar sempat pula membuatku takut belanja. “Kalau tak punya uang, tak usah beli!” teriak seorang pedagang saat aku berusaha menawar sebuah labu kuning kecil. Enam ribu, yang benar saja. Aku memilih pergi, tidak jadi membeli. Dengan uang belanja yang pas-pasan, aku harus berpikir keras untuk mendapatkan sayur dan lauk yang tepat. Di sini semua dijual dengan pembulatan sampai seribu. Tak ada recehan. Seperti supermarket tradisional saja, keterampilan menawar barangpun tidak terpakai di sini.
“Saya saat awal-awal tinggal di sini, sempat stres, Mbak. Harga-harga barang sangat mahal. Jadi harus pinter mengaturnya!” cerita seorang tetanggaku
“Iya, uang lima ratus nggak laku. Pernah saya kumpulkan sampai satu kantong dan saya bawa pulang ke Jawa. Sampai digeledah petugas bandara karena dikira bawa emas,” cerita Bu Is yang suaminya pegawai di sebuah perusahaan asing penambang emas di Papua. Tapi, kebanyakan orang Indonesia tak tahu kalau Papua ada emasnya. Tahunya tambang timah. Kasihan betul negeriku ini…
Aku memang baru beberapa hari tiba di Timika Tengah, di kota kecil yang padat. Suamiku sudah lebih lama tinggal di sini. Ia merantau dan berdagang di sini sejak lima tahun yang lalu.
Sejak hari pertama, aku sadar untuk belajar banyak melapangkan dadaku. Bayangkan saja, saat melihat-lihat kota untuk pertama kalinya, ada pengendara sepeda motor yang meluncur tepat berhadapan dengan kami dari arah yang berlawanan, padahal kami berada di lajur kiri. Untung saja suamiku mengendarai sepeda motornya dengan pelan, sehingga tabrakan bisa dihindarkan.
“Ya, di sini kita harus banyak mengalah. Bahkan, kalau sampai ada anjing yang tertabrak, kita langsung kena denda!” Begitu suamiku menerangkan “peraturan” di jalan. Karenanya, ia tak pernah berani ngebut. Di sini aku memang melihat orang-orang begitu menyayangi anjingnya.
Papua. Tanah impianku ini memang tak seeksotik yang kubayangkan. Bayangan tumpukan sampah dan rumput liar yang mengisi tanah-tanah kosong, jelas bukan gambaran yang eksotik. Dulu, sebelum menikah, aku punya obsesi untuk tinggal di pulau ini. Sebuah kesadaran akan perluasan dakwah menumbuhkan semangat itu. Aku begitu bersemangat mendengar ceramah seorang ustadz tentang dakwah di Indonesia Timur. Aku lantas merasa terpanggil.
Tidak terbayangkan bahwa Allah memberiku peluang itu. Sebuah tawaran untuk menikah dari seorang ikhwan di Papua aku terima beberapa bulan lalu. Saat itu hatiku begitu takjub. Allah hampir memenuhi obsesiku. Dengan cara inikah aku sampai ke Papua, ya Allah? Akhirnya dengan dukungan teman-teman dan orangtua, aku menerima lamaran itu. Dengan proses cepat, aku menikah secara sederhana. Dan Papua telah menungguku.
“Huek, huek!” Insiden telur busuk itu seolah tak bisa kulenyapkan dari pikiranku. Aku jadi mudah mual dan muntah-muntah. Bahkan, aku jadi sulit makan beberapa hari ini. Perutkupun terasa sakit sekali. Rasanya aku belum pernah merasakan sakit perut lebih dari ini. Keringat dingin mulai menetes di keningku. Badanku panas dingin.
Aku meninggalkan piring-piring yang belum kucuci. Segera aku masuk kamar, lalu mengoleskan minyak tawon di beberapa bagian tubuhku. Sambil menahan sakit, aku hanya tiduran sambil menunggu suamiku pulang.
“Makanya, kalau disuruh makan itu nurut. Begini akibatnya, malaria. Di sini tidak baik membiarkan perut kosong. Rawan penyakit!” Ceramah suamiku saat mengendarai motor pulang dari klinik. “Masih untung malaria tertiana, kalau tropicana bisa-bisa bahaya. Ada teman yang kena syaraf sampai jadi gila, lho!”
“Abi jangan bikin takut gitu, ah.” Aku menyodok pinggangnya.
“Eh, bener, di sini banyak yang begitu. Sudahlah, pokoknya besok Ummi harus banyak makan. Abi tidak mau melihat Ummi sakit!”
“Tapi Ummi nggak bisa! Bau telur busuk itu masih teringat terus. Atau, Ummi nggak masak dulu? Ganti Abi yang masak, ya?” He-he-he, akhirnya keluar juga manjaku.
Begitulah, dalam beberapa hari suamiku mengerjakan tugas domestik. Badanku masih lemah. Obat malaria yang sangat pahit itu juga mengurangi nafsu makanku. Cuma roti dan susu yang bisa selamat kucerna. Makanan lain masih termuntahkan.
Konon, wabah malaria adalah sapaan hangat bagi pendatang di pulau ini. Pokoknya bukan orang Papua kalau belum kenalan dengan malaria. Makan kina seperti makan permen saja bagi orang Papua. Padahal, rasanya pahit sekali.
Setelah pulih, aku sangat ingin jalan-jalan.
“Sudah kuat? Nanti sakit lagi,” ujar suamiku.
“Buat refreshing lah, Bi.”
“Risiko nggak ditanggung, lho!”
“Ya, pokoknya keluar. Ke mana saja deh. Cari matoa juga boleh,” pintaku penuh semangat.
Beberapa kali aku sempat melihat orang menjual matoa di pasar. Sekarang lagi musim matoa, buah asli Papua. Bentuknya lonjong, sedikit lebih besar dari telur puyuh, dan rasanya mirip kelengkeng. Harganya relatif murah dibanding buah lainnya.
“Apa kerja mereka, Bi?” tanyaku saat melihat beberapa penduduk asli yang asyik mengobrol di pinggir jalan yang kami lewati.
“Nggak tahu, ya. Masih banyak yang berladang dan hanya mengambil hasil hutan. Tapi, ada yang kerja di proyek bangunan.”
“Iya, kelihatannya mereka kuat-kuat. Yang perempuan juga. Ummi pernah lihat perempuan yang bekerja di proyek dekat apotek itu.”
“Abi, apa mereka baik pada kita?” Hatiku ragu. Aku melihat sorot mata tidak bersahabat saat kami melintasi mereka.
“Ya, sulit dikatakan. Mereka itu keras dan suka berkelahi. Kalau sedang marah, apalagi dengan pendatang, mereka tidak peduli orang mana, asal bukan dari kalangan mereka, ya jadi sasaran. Bagi mereka pendatang, ya pendatang.”
“Bahaya kalau gitu.”
“Makanya, tidak aman pergi sendirian, apalagi perempuan.”
Tak lama kulihat botol-botol minuman keras berceceran di jalan. Mabuk-mabukan agaknya sudah jadi kebiasaan di sini. Di pasar, aku juga sering melihat orang mabuk.
Suamiku juga menjelaskan praktek pelacuran yang sudah lazim di sini. “Di dekat jalan tadi itu banyak rumah-rumah buat ‘begituan’,” tambah suamiku. Ah, pantas saja Papua punya angka penderita AIDS yang begitu tinggi.
“Ke mana nih? Sudah sore,” tegur suamiku.
“Ke dekat bandara saja. Pasti enak jalan-jalan sore begini.”
Suamiku mengarahkan sepeda motornya keluar dari jalan raya, menyusuri jalan pinggir kota menuju bandara. Ada sebuah sungai yang cukup besar mengalir di tepinya. Airnya cukup jernih tapi gelap, sepertinya berlumpur dan banyak ganggangnya. Aku jadi ingat ikan air tawar yang aku beli di pasar kemarin. Kotor dan berlumut sehingga aku harus bekerja keras membersihkan sisiknya.
“Kok dingin, ya? Rasanya aneh, bikin tidak enak badan.”
“Makanya, sebenarnya Abi tak ingin mengajak Ummi ke luar. Cuaca di sini beda. Maunya jalan-jalan, eh malah dapat penyakit nanti. Tapi, biar Ummi merasakan sendiri, daripada ngambek,” kata suamiku datar.
Suara serangga hutan yang berisik membuatku merasa tidak nyaman. Nyamuk-nyamuk hutan terasa berseliweran di sekitarku. Pohon-pohon besar dan rimbun membuat suasana gelap. Aku jadi ingin segera pulang. Tanpa banyak berdebat, suamiku menuruti keinginanku.
Kini aku tercenung, Terpikir kembali obsesiku untuk berdakwah di sini. Namun sekarang aku dihadapkan pada kondisi sesungguhnya. Orang-orang berperangai keras. Para pendatang yang matrealistis dengan tingkat moral yang memprihatinkan. Daerah transmigrasi yang kurang diminati karena kondisi jalan yang demikian buruk. Lingkungan yang rawan penyakit.
Lalu, bagaimana caraku berdakwah?
Hatiku jengah. Aku teringat buku-bukuku yang tersusun rapi di rak. Bayangan materi dakwah yang kupelajari tiba-tiba hadir. Aku menarik napas perlahan. Bergunakah semua itu di sini? Dengan apa kuketuk hati mereka untuk dekat pada Allah? Hatiku sibuk berdialog.
Setelah sampai di rumah, aku lebih banyak diam. Berpikir. Hingga jauh malam aku sulit tidur. Sementara suara gitar dan nyanyian parau berbahasa aneh membuatku terasa berada di negeri asing.
“Apakah di tempat seperti ini, akan lahir anak-anakku nanti? Akan tumbuh seperti apa mereka?” Aku mencoba mengais harap. Aku teringat saat suatu siang kulihat kaki-kaki kecil berjalan tanpa sepatu dan bangunan sekolah yang tidak terawat. Wajah pendidikan yang meresahkan hati. Ada banyak yang mesti disiapkan. Dan aku mesti ambil bagian.
Kutipan dari : http://www.ummigroup.co.id/?pilih=lihat&id=685